Arsip Harian: Desember 27, 2011

Banjir Barabai 2011

Baru satu hari setelah saya menuliskan tentang Banjir di Banua Kita (Kal Sel) dengan harapan tahun ini tidak ada ada banjir di Hulu

Jalan Pasar Tiga Barabai Terendam Luapan Air, 24 Desember 2011

Jalan Pasar Tiga Barabai Terendam Luapan Air, 24 Desember 2011

Sungai Selatan, HSS (Kandangan) dan di Hulu Sungai Tengah, HST (Barabai), ternyata di Barabai banjir keesokan harinya, tepatnya banjir di hari sabtu, 24 Desember 2011, walaupun sebenarnya pada hari jumat 23 Desember 2011 sudah ada luapan air di beberapa tempat tapi belum terlalu banyak dan dalam. Hal ini terjadi setelah hampir satu hari penuh hujan tanpa berhenti (dimulai pada hari kamis malam 22 Desember 2011 sampai hari jum’at siang masih hujan).

Banjir ini hanya terjadi di Barabai, HST sedangkan dii Kandangan, HSS sementara tidak ada banjir.  Banjir ini terjadi tepat di Hari Jadi Kab. Hulu Sungaii Tengah, dan di tengah hiruk pikuk peringatan / upacara hari jadi serta di tengah hari pasar barabai, hari Sabtu. Banjir ini sebenarnya hanya luapan air sungai yang sudah tidak tertampung ditambah dengan air hujan yang tidak tersalurkan dengan baik dari got. Sehingga nyaris banjir ini hanya terjadi di daerah-daerah pinggiran sungai dan daerah aliran air yang merupakan tempat rendah. Namun demikian karena pusat perkantoran dan juga pasar dekat dengan sungai maka akhirnya jalan-jalan protocol dalam kota pun ikut tergenang air.

Ada beberapa wilayah yang merupakan langganan Banjir di Barabai seperti : kampong qadi, kittun, telaga air mata, simpang ulama, bawan, sarigading, pajukungan dll. Adapun jalan trans Kalimantan yang terendam ada di bawan dan pajukungan. Di bawan hanya sedikit, dan yang rada parah ada di Pajukungan. Pada tahun 2011 ini sepertinya lebih hebat daripada tahun 2010 kemarin, lebih dalam dan lebih dalam, karena biasanya hanya beberapa centimeter saja menggenang jalan dan hanya terjadi sebentar tidak sampai beberapa hari.

Jalan Pujukungan Terendam, Sehingga Jalan Harus dipakai sebelah saja

Jalan Pujukungan Terendam, Sehingga Jalan Harus dipakai sebelah saja

Daerah pujukungan memang merupakan daerah pinggiran sungai, namun seingat saya sekitar mulai tahun 2007 sampai 2009 tidak ada lagi luapan air sampai masuk jalan trans Kalimantan di daerah pajukungan, hal ini dikarenakan pada tahun tahun tersebut dilakukan normalisasi sungai (pendalaman dasar sungai) dan pemecahan arus air. Namun pada tahun 2010 dan 2011 secara berturut turut pajukungan kembali terendam. Walaupun tidak dalam dan tidak lama serta tidak sampai merusakk bangunan (Cuma beberapa rumah saja yang airnya sampai masuk ke rumah) tapi luapan air ini merusak aspal jalan. Setiap kali luapan air ini datang, maka di daerah pajukungan menjadi macet, karena arus kendaran harus secara bergantian lewat, karena ada bagian jalan yang airnya cukup dalam dan berpotensi bisa bikin mogok kendaraan bermotor.

Luapan air di tahun 2011 ini juga menggenangi jalan di pasar Barabai, seperti jalan di pintu gerbang  pasar, begitupula di jalan pasar 2, dan pasar 3. Luapan air juga ada di Simpang ulama, dan jalan dekat perumahan swa dharma, tangkarau, bulau dll

Paling tidak ada beberapa factor yang menyebabkan banjir ini, seperti yang sudah saya tulis secara umum (kasus Kalimantan Selatan)  beberapa hari yang lalu di Banjir di Banua Kita  avivsyuhada.wordpress.com Namun secara khusus di Barabai menurut saya ada beberapa penyebab sekaligus solusinya :

  1. Pendangkalan air sungai yang menyebabkan luapan air keluar dari daerah aliran sungai dan masuk pada aliran air di got-got kota dan juga jalanan.

Hal ini bisa ditanggulangi dengan melakukan normalisasi sungai dan memecah aliran sungai

  1. Curah hujan yang tinggi dan didukung dengan cuaca yang ekstrem.

Hal ini tentunya diluar dari kemampuan kita, yang dapat kita lakukan hanya mempersiapkan segala sesuatunya baik secara sarana

Jalanan dalam Kota Barabai

Jalanan dalam Kota Barabai

prasarana, seperti pembersihan got-got, bahkan kalau perlua adanya pelebaran/ perluasan got dalam kota sehingga mampu menampung dan menyalurkan luapan air ketika hujan yang lebat dan lama, meninggikan jalan / siring yang berdekatan dengan sungai, membuat aliran air yang memadai untuk dalam kota dll

Paling tidak ini sudah memberikan isyarat kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan permasalahan banjir, dan sekaligus warning keras agar tidak membuka peluang adanya pertambangan di pegunungan meratus atau adanya perluasan perkebunan kelapa sawir yang tidak terkontrol.

Cintai Lingkungan Banua, Hagan Anak Cucu Kita


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 35 pengikut lainnya.