‘Ditinggal Manawaki, Dibawa Malinggang ka Jukung’

‘Ditinggal Manawaki, Dibawa Malinggang ka Jukung’

Ditinggal = ditinggal/tidak diajak
manawaki = melempari
dibawa = dibawa
malinggang = menggoyang
ka = ke
jukung = jukung/perahu khas Banjar

“Tidak diajak melempari, saat dibawa menggoyang-goyang (mau menenggelamkan) perahu”

Ungkapan ini sudah ada sejak zaman dulu dalam kehidupan masyarakat Banjar. Makna yang terkandung pada ungkapan ini adalah Orang yang selalu berusaha merusak persatuan.

Seseorang yang kena sindir melalui ungkapan ini biasanya selalu merasa tidak puas terhadap kedudukannya di masyarakat, selalu ingin menjadi pemimpin utama padahal semua orang tahu kualitas pribadinya sehingga jarang yang mempercayakan amanat kepada orang ini. Jika membentuk suatu wadah seperti organisasi/partai/perkumpulan kalau orang ini tidak diikutsertakan dalam kepengurusan, maka ia akan mencaci maki orang di dalam perkumpulan tersebut. Sebaliknya saat diikutsertakan dia sering melakukan hal-hal yang kurang baik sehingga mencoreng nama baik perkumpulan.

Orang ini kerjanya hanya bisa memberikan komentar negatif tanpa bisa mempraktekkan ucapannya atau memberikan solusi dari keluhannya. Bagi orang Banjar, orang seperti ini ‘ngalih diagungakan’ (sukar diberi penghormatan). Segala kebijakan orang dianggapnya salah, dia sering dibenci masyarakat tetapi dalam pikirannya seolah-olah selalu diperhatikan masyarakat. Walau orang ini mempunyai tingkat pendidikan tinggi atau keahlian yang hebat, masyarakat akan menganggap orang seperti ini hanya akan merusak persatuan sebab dalam masyarakat Banjar itikad baik lebih dihargai dalam rangka menunjang keberhasilan bersama.
Ungkapan ini akan diucapkan di hadapan yang bersangkutan di tengah orang banyak sebagai teguran sopan dan berbudaya agar orang tersebut mau merenungi kelakuannya.

Sumber : http://kerajaanbanjar.wordpress.com/

Tentang aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 2 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih dan Muhammad Aqsha Ash Shiddiq Lihat semua yang ditulis oleh aviv

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.