‘Ditinggal Manawaki, Dibawa Malinggang ka Jukung’
Ditinggal = ditinggal/tidak diajak
manawaki = melempari
dibawa = dibawa
malinggang = menggoyang
ka = ke
jukung = jukung/perahu khas Banjar
“Tidak diajak melempari, saat dibawa menggoyang-goyang (mau menenggelamkan) perahu”
Ungkapan ini sudah ada sejak zaman dulu dalam kehidupan masyarakat Banjar. Makna yang terkandung pada ungkapan ini adalah Orang yang selalu berusaha merusak persatuan.
Seseorang yang kena sindir melalui ungkapan ini biasanya selalu merasa tidak puas terhadap kedudukannya di masyarakat, selalu ingin menjadi pemimpin utama padahal semua orang tahu kualitas pribadinya sehingga jarang yang mempercayakan amanat kepada orang ini. Jika membentuk suatu wadah seperti organisasi/partai/perkumpulan kalau orang ini tidak diikutsertakan dalam kepengurusan, maka ia akan mencaci maki orang di dalam perkumpulan tersebut. Sebaliknya saat diikutsertakan dia sering melakukan hal-hal yang kurang baik sehingga mencoreng nama baik perkumpulan.
Orang ini kerjanya hanya bisa memberikan komentar negatif tanpa bisa mempraktekkan ucapannya atau memberikan solusi dari keluhannya. Bagi orang Banjar, orang seperti ini ‘ngalih diagungakan’ (sukar diberi penghormatan). Segala kebijakan orang dianggapnya salah, dia sering dibenci masyarakat tetapi dalam pikirannya seolah-olah selalu diperhatikan masyarakat. Walau orang ini mempunyai tingkat pendidikan tinggi atau keahlian yang hebat, masyarakat akan menganggap orang seperti ini hanya akan merusak persatuan sebab dalam masyarakat Banjar itikad baik lebih dihargai dalam rangka menunjang keberhasilan bersama.
Ungkapan ini akan diucapkan di hadapan yang bersangkutan di tengah orang banyak sebagai teguran sopan dan berbudaya agar orang tersebut mau merenungi kelakuannya.
Sumber : http://kerajaanbanjar.wordpress.com/