Kesultanan Banjar

Otonomi Daerah memberikan ruang besar untuk daerah mengaktualisasikan dirinya, namun banyak juga pengamat yang menilai bahwa semangat primordial dan kedaerahan yang eksklusif masih mengganggu pertumbuhan kesadaran berbangsa di Indonesia, dan salah satunya diperparah ketika ada ortonomi.  Semua pihak dan berbagai kalangan sebenarnya sudah menyadari bangsa Indonesia sangat majemuk (plural) dan muncul berbagai nilai dan tradisi budaya yang mencerminkan kehidupan multikultural. Di masa otonomi inilah kesultanan-kesultanan daerah semakin memiliki kedudukan yang kuat, salah satunya adalah Kesultanan Banjar.

Bupati Kabupaten Banjar,  Raja Muda Pangeran Khairul Saleh, di nobatkan setahun yang lalu yaitu pada Minggu (12/12/2010), dinobatkan menjadi Raja Muda Kesultanan Banjar. Ia menjadi raja muda pertama setelah hampir 100 tahun Kesultanan Banjar mengalami pasang surut seiring dihapuskannya kesultanan oleh Belanda tahun 1915  (perang Banjar-Barito berakhir).

Proses penobatan ini dilalui dengan acara ritual mandi-mandi atau badudus yang berlangsung pada jumat pagi. Proses baduus sulta banjar di ikuti oleh segenap bangsawan dari kesultanan banjar. Ditengah santernya pro kontra keberadaan kesultanan di indonesia,  di kabupaten banjar,  kalimantan selatan,  malah semakin memperkuat eksisitensi diri kesultanan.

Selama masa pasang surut  tidak ada raja, pangeran, dan unsur-unsur Keraton Banjar yang lain. Yang ada hanya sebutan gelar oleh masyarakat terhadap orang-orang yang masih memiliki garis keturunan (zuriyat) kesultanan. Para zuriyat ini menekuni berbagai profesi, mulai dari pejabat publik hingga pengusaha.  Acara penobatan yang dirangkai dengan penganugerahan gelar pangeran dan gelar budaya tersebut dihadiri raja dan sultan dari sedikitnya 23 keraton di Nusantara. Turut hadir tokoh dan ulama besar, pemerintah daerah, serta Staf Ahli Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Pranata Sosial Surya Yoga. Kegiatan berlangsung di Mahligai Sultan Adam, Martapura.

Pangeran H Chairiansjah, salah seorang bangsawan Banjar sekaligus ketua panitia, mengatakan, penobatan raja muda dan penganugerahan gelar pangeran ini lebih kepada budaya. Kegiatan ini sebagai wujud penghargaan terhadap nilai-nilai warisan budaya kesultanan tempo dulu dalam membangun sistem sosial masyarakat Banjar yang islami.

Munculnya kembali Kesultanan Banjar lengkap dengan strukturnya jangan terlalu dipertentangkan atau dikaitkan dengan kepentingan lain. Bangkitnya Kesultanan Banjar adalah upaya kita bersama menghidupkan dan mengembangkan kebudayaan.  Dan penobatan ini bukan sebagai tonggak membentuk sistem monarki di daerah-daerah.  Banyak kerajaan di Nusantara yang sejak proses kemerdekaan sampai saat ini tidak terperhatikan, tidak terurus, dan ditinggalkan. Ini waktu yang tepat untuk memberikan pemahaman kepada rakyat agar budaya di Nusantara menjadi satu kesatuan di dalam NKRI. Jadi, tidak ada mau membentuk monarki dalam demokrasi. Betapa kayanya bangsa kita dengan sejarang kerajaan/kesulatanan setidaknya dapat kita lihat di www.kerajaannusantara.com/ yang memberikan informasi yang cukupo lengkap terhadap kekayaan budaya serta politik ini.

Setahun setelah penobatan, mulai Senin (5/12/2011) hingga Sabtu (10/12/2011), Kesultanan Banjar menggelar hajat budaya yakni milad ke-507. Beragam acara seni, budaya serta tradisi disajikan untuk masyarakat di Martapura, Banjar. Tak hanya, acara berdimensi ilmiah seperti seminar juga diadakan. Gelaran yang bertema “Mengangkat Darjah Meraih Tuah”  itu adalah memperkuat integritas bangsa melalui pelestarian budaya kesultanan yang sarat nilai kebaikan.

Kesultanan Banjar dan keratonnya dapat mengambil perannya sebagai pusat kebudayaan. Pasalnya, aktivitas budaya tidak sebatas berupa pergelaran seni, budaya dan sastra untuk membangkitkan nostalgia. Akan tetapi juga melakukan pengkajian dan pendokumentasian sejarah.  Besar harapan  Kesultanan Banjar terus berusaha menjadi pelopor penggiat kebudayaan Banjar. “Dengan cara ini budaya banjar yang hampir punah bisa dilestarikan dan dikenalkan lagi pada generasi penerus”.

 

Tentang aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 2 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih dan Muhammad Aqsha Ash Shiddiq Lihat semua yang ditulis oleh aviv

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.