“Managuk Tiruk Mangaluarakan Sarapang“
Managuk = menelan
Tiruk = tombak bermata satu
Mangaluarakan = mengeluarkan
Sarapang = tombak bermata empat
“Saat menelan seperti menelan tombak bermata satu, saat mengeluarkan seperti mengeluarkan tombak bermata empat”
Ungkapan dalam bahasa Banjar ini memiliki makna: perjuangan dan kesulitan dalam mempelajari suatu ilmu, tetapi lebih sulit lagi mengamalkannya.
Dalam menuntut ilmu kita sering mengalami berbagai kesulitan, berbagai macam pelajaran yang kita terima di sekolah sering membuat kita kewalahan. Ada murid yang tidak mampu belajar matematika, ada juga murid yang susah menghapal pelajaran sejarah. Perjuangan dalam menuntut ilmu ini diibaratkan oleh orang Banjar seperti menelan tombak bermata satu, bisa dibayangkan betapa sulitnya manusia menelan sebuah tombak, seperti itulah kesulitan dalam mencari ilmu. Untuk menjadi seorang yang berilmu harus rajin, sabar, dan ulet, selalu yakin kepada diri sendiri serta tidak mudah putus asa sehingga bisa mencapai tingkat pendidikan yang diinginkan.
Pada masa ini sudah begitu banyak orang yang mampu managuk tiruk, di masyarakat sering kita lihat orang dengan titel sarjana, master, profesor dan lain gelar sebagainya. Namun kebanyakan pula dari orang-orang ini begitu sulit mengamalkan ilmu yang didapatnya untuk kemajuan masyarakat banyak, fenomena yang sering terjadi di masyarakat saat ini diantaranya sebagian besar sarjana akhirnya bekerja jauh dari bidang yang dulu ia pelajari semasa kuliah. Hal ini oleh orang Banjar diibaratkan betapa sulitnya mengeluarkan tombak bermata empat, setelah berhasil menelan tombak mata satu tadi.
Ungkapan ini juga populer untuk kalangan orang yang menuntut ilmu agama Islam, misalnya ada seorang yang telah lulus dari pendidikan pesantren tetapi dalam pergaulan di masyarakat seolah-olah tidak pernah mendapat ajaran agama atau seseorang yang selama hidupnya belajar mengenai ilmu moral tetapi tidak mampu mengamalkannya dalam kehidupan nyata.
Pada hakikatnya memperoleh ilmu itu bukanlah hal yang gampang dan main-main begitu pula dalam pengamalannya harus bersungguh-sungguh. Menelan tombak bermata satu atau mengeluarkan tombak bermata empat adalah sama-sama pekerjaan yang tidak mudah. Masyarakat Banjar menjadikan ungkapan ini sebagai peringatan bagi orang berilmu untuk terus berpikiran maju dan tahan terhadap berbagai macam cobaan.
Sumber : http://kerajaanbanjar.wordpress.com/