Hikmah dari ”Gulali Janggut”

Foto si Bapak yang tak sempurna karena saya ambil secara diam-diam

Foto si Bapak yang tak sempurna karena saya ambil secara diam-diam

Bapak ini terlihat sangat letih, dari raut mukanya aja sudah ketahuan . . . terus ditambah dengan bau keringatnya yang sudah mengering. Dengan menggunakan topi besarnya serta kaleng besar khusus tempat ia membawa jualannya, “Gulali Janggut”. Mau kemana pak’ saya membuka pembicaraan, ke Kandangan jawabnya. Setelah pembicaraan awal inilah terus mengalir pembicaraan kami selama perjalanan sambil berdesakan dalam mobil  angkutan yang sesak dengan manusia dan barang. Dari pembicaraan inilah saya sekali lagi mendapatkan sebuah pelajaran tentang yang namanya perjuangan, sabar, usaha, dan tawakkal serta syukur kepada Tuhan. Kata-kata yang sangat mudah kita ucapkan namun pasti akan sulit untuk dilakukan.

Perjalanan hari ini adalah perjalanan saya dari Banjarbaru ke Barabai dengan menggunakan angkutan Umum (L300) yang melayanani angkutan antar kota dalam provinsi Kalimantan Selatan. Di tengah perjalanan pulang inilah saya bertemu dengan Si Bapak Penjual “Gulali Janggut”. Banyak orang menyebutnya juga gulabatu janggut, sasingut, orang jawa bilang : arum manis dll. Sebuah jualan yang disuka sama anak-anak kecil.

Si Bapak menyetop mobil nagkutan yang saya tumpangi di daerah Tambarangan (Kab. Tapin, Kal Sel) dan masuk ke mobil dengan duduk pas berdesakan dengan ssaya di dekat pintu, Nah Maaf lah desakan jar Bapak, santun. Bau keringat menyengat karena sudah ratusan meter dan mungkin kilometer si Bapak berjalan untuk jualan gulali.

Biasanya si penjual gulali sambil berkeliling kampung sangat lihai memainkan kaleng tempat gulali sebagai alat musik yang bila dipukul dengan ritme dan keras pukulan yang berbeda akan menghasilkan irama nada yang bagus . . .

Memang rumahnya di kandangan ya pak ? lanjut saya bertanya, iya katanya , Ngontrak di daerah Jambu, Loklua Kandangan. Dari nada bicaranya semakin ketahuan kalau si bapak bukan asli urang banjar, dan setelah lama bicara akhirnya saya mengetahui ternyata si bapak berasal dari Nusa Tenggara Barat. Perjuangan hidup merantau dengan tanggungan keluarga beserta harapan hidup  dengan jualan gulali menjadi hikmah bagi saya.

2-3 kg gula pasir, dan tepung dan bahan bahan lain bapak habiskan dalam setiap harinya, kalau lagi sepi paling 2 kg kata si bapak. Setiap harinya si bapak tidak punya pangkalan atau rute yang tetap, kadang-kadang keliling Kandangan, kadang pula ke Barabai atau ke daerah Rantau seperti hari ini. Kalo hujan kita mangkal di sekolahan aja mas, tapi kalo  rada terang kita muter, katanya.

Sepanjang perjalanan pembicaraan ini berlanjut, di dalam mobil yang sempit dan sesak serta bau, saya mendapatkan hikmah yang besar. Dengan perjuangan yang berat, jauh berjalan kaki, keringat yang mengucur, dan harapan untung yang tak pasti, si Bapak hanya mengharapkan puluhan ribu saja setiap harinya sebagai keuntungan dari usahanya, asal cukup untuk membeli gula dan tepung untuk membuat gulali untuk dijual esok hari, plus lauk pauk untuk makan hari ini beserta keluarga dan biaya kontarakan  100 ribu / bulan. Belum lagi kalau ada biaya transport, seperti hari ini si Bapak harus menyisihkan uang sekitar 20 ribu (PP Kandangan – Rantau), al hasil pasti hasilnya sangatlah minim. ”Syukuri aja mas, yang penting halal. Sebuah kata yang mengiang di telinga saya yang keluar dari mulut si Bapak.

Ternyata penjual gulali ini bukan sekedar si bapak ternyata banyak dan mereka berbagi-bagi kawasan jualan, mereka juga sebagian tinggal berdekatan dengan si bapak. Katanya sih, kontrakan mereka sangat kecil, dan tak punya WC, tapi dekat dengan sungai amandit, kandangan, jadi kalo mau ke balakng tinggal  pergi ke sungai aja.

Turun di mana pak, tanya saya, ketika kami sudah memasuki daerah Kandangan. Turun di depan kantor Pos aja, katanya. Kenapa tidak di simpang 4 Yonif aja pak, kata saya, kan lebih ke dekat tuk menuju ke Lok lua.

Saya mau ke pasar dulu mas, karena mau langsung beli gula, tepung, sayur dan lauk untuk makan, jawab si bapak. Sesampai di kantor Pos Kandangan, dekat dengan terminal kota, maka si bapak turun dan berpamitan, dan berpisahlah kami. Tanpa disadari bapak, saya abadikan cerita ini biar kita ambil hikmahnya. Mungkin saja si bapaklah yang saya sering lihat dijalanan dan bahkan mungkin yang mampir ke rumah saya.

Sembari si bapak turun, saya melanjutkan perjalanan saya ke Barabai (sekitar 30 menit an lagi / 30 km) dan sambil memikirkan perjuangan si Bapak.

Semoga Rezki si Bapak dan keluarga serta orang-orang yang berjuang dengan tenaga untuk nafkah yang halal selalu berkah dan ditambah Allah SWT. Amin.

Tulisan ini sejalan dengan :  Bekerja Untuk Lelah,  Pengemis,  dan Penjual Es Cream Banjar Baru http://avivsyuhada.wordpress.com/2012/01/12/pelajaran-dari…an-banjar-baru,

Selamat Menyimak. Semoga ada Hikmah

 

Tentang aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 2 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih dan Muhammad Aqsha Ash Shiddiq Lihat semua yang ditulis oleh aviv

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.