Pasar Kandangan “Bahari”

Pasar Kandangan Bahari (Dulu Kala) patut untuk kita lihat-lihat kemabli dan dikenang sejarahnya. Karena pasti banyak, orang banua anam, orang banjar dan bahkan orang kandangan sendiri yang tidak tahu sejarah Pasar Kandangan, padahal sekarang pasar kandangan lagi dalam tahap pembangunan yang mana dalam 1  tahun kedepan sudah rampung pembangunannya. Terlepas dari kontradiksi tentang pro kontra pembangnan pasar kandangan. Pro dengan tuntutan zaman (ekonomi, sosiologi, keamanan dan budaya masyarakat), Kontra karena mengingat nilai sejarah. Saya menulis ini sekedar ingin memberikan info sekaligus renungan sejarah dan budaya buat kita semua.

Pasar Kandangan itu dibangun pada tahun 1937, pada saat Belanda berkuasa. Pada saat sebelum pembangunan. maka wajah pasar kandangan tidak banyak berubah dari asal pada zaman Belanda. Tidak ada perubahan berarti dalam hal arsitektur dan dindingnya, hanya atap yang berubah dari sirap digantikan seng karena akibat kebakaran besar pada tahun 1952 dan 1984.

Pasar Kandangan sebelum pembongkaran, dengan atap seng

Pasar Kandangan sebelum pembongkaran, dengan atap seng

Pasar Los Batu Kandangan mempunyai sejarah yang sangat bernilai bagi masyarakat Kandangan dan Banua Anam, karena saat pembangunannya oleh Belanda terlalu banyak hal yang dialami oleh masyarakat saat itu, tak terkecuali berbagai pengorbanan yang harus diikhlaskan masyarakat yang hidup saat itu. Misalnya, pemidahan kuburan dan langgar, dan masih menyisakan satu kuburan Habib (meninggalnya: 1893) yang dibiarkan berada dalam kawasan perbelanjaan tersebut. Bertahannya kuburan Habib, yang dikeramatkan, menunjukkan suatu bentuk perlawanan dan kepahlawanan yeng mengiringi pembangunan pasar tersebut.

Pasar rakyat di Kandangan, banyak bakul dan lanjung. Ada yang berjualan beras lengkap dengan cupikannya, tahun 1930.


Pasar Kandangan yang menjual kopra yang tengah dikeringkan, nampak mandor Belanda yang berkebangsaan pribumi.




Pasar Kandangan, kemungkinan ini sewaktu bulan puasa (Ramadhan), karena banyak yang menjual cendol

Gbr 1: Rumah dan kantor Asisten Residen Kandangan (1900)
Gbr 2: Mesjid Taqwa Kandangan (1905)
Gbr 3: Tari Topeng Pantul untuk merayakan perayaan Tahun Baru Kandangan (1/1/1905)
Gbr 4: Wayang Orang untuk merayakan perayaan Tahun Baru Kandangan (1/1/1905)
Gbr 5: Suasana Kali Amandit (1867)
Gbr 6: Pasar Beras Kandangan(25/10/1917)

Tentang aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 2 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih dan Muhammad Aqsha Ash Shiddiq Lihat semua yang ditulis oleh aviv

2 Tanggapan to “Pasar Kandangan “Bahari””

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.