Pasar Kandangan merupakan pasar tertua se Banua Anam dan memiliki nilai sejarah yang dalam, di tengah tuntutan zaman bangunan pasar kandangan secara fisik harus bergnati. Demi masa depan akhirnya sejarah secara fisik harus kita korbankan, namun sejarah secara substansi, ruh dan esensi harus kita ingat dan hargai keberadaannaya. Coba baca juga Pasar Kandangan “Bahari” untuk mengingat sejarah ini.
Pembangunan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan beranjak berjalan di segala bidang, baik secara fisik maupun non fisik. Sesuai dengan Visi dan Misi Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan 2009 s/d 2013 menuju Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang Agropolitan Mandiri, Unggul dan Religius (Pembangunan Pertanian Berbasis Agroindustri dan Keagamaan). Untuk hal tersebut tidak terkecuali Pasar Kandangan pada Los Batu yang sudah dilakukan rehab total.
Pemkab HSS melakukan Rehab Total pada Los Batu Pasar Kandangan, bangunan Los Batu Pasar Kandangan yang sudah tua dilakukan rehab total, karena selain sudah tua bangunannya yang dapat berakibat kurang dapat menjamin kekuatan bangunan, namun juga tentunya ini akan lebih menambah penyesuaian terhadap bentuk bangunan yang semakin berubah dengan perkembangan jaman untuk membuat Kota Kandangan yang lebih menarik.
Pemkab HSS memutuskan untuk membongkar bangunan kuno pasar Los Batu Kandangan, dengan alasan sudah tidak layak dan dapat membahayakan warga yang beraktivitas di pasar tersebut. Bangunannya sudah dianggap terlalu tua untuk terus dipertahankan, dan juga kepadatan manusia yang bertransaksi membuat pasar menjadi terlihat rapuh, kumuh, dan jorok serta sudah melebihi daya tampung yang wajar.
Bagi yang kontra terhadap pembongkaran Pasar Los Batu Kandangan, mereka menilai Pemkab HSS hanya dipandang dari segi fisik bangunannya, sedangkan nilai sejarah bangunannya tidak dipandang sebagai cukup bernilai sejarah yang patut dipertahankan. Padahal, pasar tersebut sejak berdiri tidak mengalami perubahan yang sangat berarti dalam hal arsitektur dan dindingnya, hanya atap yang berubah dari sirap digantikan seng karena akibat kebakaran besar pada tahun 1952 dan 1984. Beberapa sumber mengatakan bahwa dinding bangunan tersebut terbuat dari batu yang diperlakukan secara khusus; disikat dan dibersihkan agar daya tempelnya kuat.
Sebenarnya, pasar Los Batu Kandangan mempunyai sejarah yang sangat bernilai bagi masyarakat Kandangan dan Banua Anam, karena saat pembangunannya oleh Belanda terlalu banyak hal yang dialami oleh masyarakat saat itu, tak terkecuali berbagai pengorbanan yang harus diikhlaskan masyarakat yang hidup saat itu. Misalnya, pemidahan kuburan dan langgar, dan masih menyisakan satu kuburan Habib (meninggalnya: 1893) yang dibiarkan berada dalam kawasan perbelanjaan tersebut. Bertahannya kuburan Habib, yang dikeramatkan, menunjukkan suatu bentuk perlawanan dan kepahlawanan yeng mengiringi pembangunan pasar tersebut.
Namun kalau dari segi sosiologis, ekonomis, keamanan dan juga pertambahan penduduk jelas membutuhkan pertambahan berbagai sarana dan prasarana, diantaranya pasar, sehingga tidak terjadi konsentrasi yang semakin padat pada satu titik; pasar Los Batu Kandangan misalnya. Sehingga demi masa depan akhirnya sejarah secara fisik harus kita korbankan, namun sejarah secara substansi, ruh dan esensi harus kita ingat dan hargai keberadaannaya.
Semoga dapat memberikan kesejahteraan dan mamfaat bagi warga banua.






