Masyarakat banjar merupakan masyarakat yang religus hal ini terlihat dengan banyaknya pondok pesantren, majelis ta’lim, dan juga dari kehidupan sehari-hari masyarakat banjar.
Kalau kita lihat sejarahnya, maka sejak pangeran Samudera dinobatkan sebagai sultan Suriansyah di Banjarmasin, kira-kira 400 tahun yang lalu, Islam telah menjadi agama resmi kerajaan menggantikan agama Hindu. Perubahan agama istana Hindu menjadi Islam telah dipandang oleh rakyat awam sebagai hal yang sewajarnya saja, dan tidak perlu mengubah loyalitas mereka. Terlebih sejak masa Suriansyah proses Islamisasi telah berjalan cepat, sehingga dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama, yaitu sekitar pertengahan abad-18 atau bahkan sebelumnya, Islam sudah menjadi identitas orang Banjar.
Salah satu yang menjadi unsur religius ini adalah Majelis Ta’lim / Pengajian Islam yang tumbuh subur di masyarakat banjar, hampir disetiap kabupaten di Kalimantan Selatan memiliki majelis taklim besar yang dibina oleh Tuan Guru (Kyiai dalam budaya Jawa). Dulu kita mengenal Majelis Ta’lim Sekumpul Martapura, yang memiliki jaringan seluruh pulau Kalimantan dan bahkan Jawa dan Sumatera. Sekarang majelis taklim inipun semakin subur dan hampir tiap malam ada terus majelis ta’lim, ini belum yang dilakukan di Masjid ataupun di Mushalla (Langgar dalam bahasa banjar)
Hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa Rasulullah SAW mengkaitkan antara keberkahan waktu dengan ilmu. Hari yang berlalu tanpa ada penambahan ilmu pada hari itu dianggap sebagai tidak membawa keberkahan.
Salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah dengan menghadiri majelis ta’lim. Demikian tingginya nilai ta’lim sehingga dikatakan oleh Rasulullah SAW nilainya lebih baik dari shalat sunat 100 raka’at:
”Dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ”Wahai Abu Dzar. Hendaklah engkau pergi, lalu engkau mempelajari satu ayat dari kitab Allah, lebih baik bagimu daripada kamu shalat 100 rakaat. Dan hendaklah engkau pergi, lalu engkau mempelajari suatu bab ilmu yang dapat diamalkan ataupun belum dapat diamalkan, adalah lebih baik daripada kamu shalat 1.000 rakaat.” (HR Ibnu Majah dengan sanad hasan).
Tentang keutamaan lainnya dari majelis ta’klim dapat pula kita fahami dari nasehat Luqmanul Hakim kepada puteranya:
”Hai anakku, ketika kamu melihat jamaah tengah berzikir (mengingat Allah atau membicarakan ilmu) maka duduklah bersama mereka. Jika engkau pandai, maka bermanfaatlah ilmumu, dan jika engkau bodoh, maka kau dapat menimba ilmu dari mereka. Sedangkan mereka mempunyai kemungkinan untuk mendapatkan rahmat Allah, sehingga engkau akan memperoleh bagian pula.
Dan jika kamu melihat kelompok yang tidak berzikir, maka hati hatilah, jangan mendekati mereka. Jika engkau pandai tiada manfaat ilmu yang ada padamu, sedangkan jika engkau bodoh, maka itu akan menambah kesesatanmu. Ada kemungkinan mereka akan menerima marah Allah, sehingga engkau akan ikut tertimpa marah Nya”.
Al-Faqih Abu Laits Samarqandi, seorang ulama salaf mengatakan dalam kitabnya Tanbihul Ghafilin:
Orang yang duduk menghadiri majelis ta’lim, sekalipun tidak dapat mengingat ilmu yang disampaikan, akan meperoleh tujuh kemuliaan:
- Kemuliaan orang yang menuntut ilmu
- Mengekang kelakuan dosa selama duduk dalam majelis
- Ketika berangkat menuju majelisnya dilimpahi rahmat Allah
- Akan ikut memperoleh rahmat yang dilimpahkan Allah kepada majelis
- Dituliskan sebagai amal kebajikan sepanjang memperhatikan apa yang dibicarakan
- Diliputi para malaikat dengan sayapnya
- Setiap langkah ditulis sebagai kebaikan dan sebagai penebus dosa.
Lalu bagaimana besarnya kalau dapat memahami dan melaksanakan. Tentu menjadi lebih luar biasa.
Dan tentu majelis taklim ini tidaklah harus besar dan dihdiri ribuan, ataupun ratusan orang. Pertemuan halaqah, liqa tarbawi mingguan kita dengan mungkin hanya 10 orang juga merupakan bagian dari majelis ini.
