Seorang penguasa Yahudi pernah berkata, “kami baru takut terhadap umat Islam jika mereka telah melaksanakan Shalat Subuh seperti melaksanakan Sholat Jum’at”
Banyak permasalahan yang bila di runut bersumber dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Itulah sebabnya para sahabat Nabi berusaha sekuat tenaga agar tidak kehilangan waktu emas itu. Pernah, suatu ketika mereka trlambat shalat Subuh dalam penaklukan benteng Tstar.’Tragedi’ ini membuat sahabat semisal Anas bin Malik selalu menangis bila mengenangnya.
Yang menarik, Subuh ternyata juga menjadi waktu peralihan dari era jahiliyah menuju era tauhid. Kaum’Ad, Tsamud, dan kaum pendurhaka lainnya, dilibas petaka pada waktu Subuh-yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid. Dan sangat mungkin keterpurukan umat Islam dewasa ini, tak lepas dari akibat diremehkanya shalat Subuh.
Atas dasar inilah terbangun sebuah kesadaran dari masyarakat untuk selalu menggemakan shalat subuh berjamaah, dengan harapan ada banyak warga yang pergi ke masjid/mushalla untuk shalat subuh berjama’ah, bahkan harapan terbesar adalah ketika shalat jama’ah subuh menyamai shalat jama’ah jum’at. Luar biasa . . .
Akhirnya tumbuh sebuah komunitas / gerakan Subuh Keliling seperti pada warga se-Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Sholat Subuh Berjamaah (FS3B) yang terbentuk pada Desember 1998, mereka manyambut panggilan suci pada pagi hari dengan bersilaturahim, shalat berjamaah, dan mendengarkan tausiah.Rutinitas itu bergilir dari mushala atau masjid tiap akhir pekan, tepatnya pada Sabtu. Berkat Subuh Keliling, silaturahim antar warga terjalin dengan kuat.
Begitupula di beberapa kota yang lain seperti Bandung, Pontianak, Surabaya dan Balikpapan serta kota-kota yang lainnya. Ada yang merupakan swadaya masyarakat, ada juga yang merupakan kegiatan insidental Pemerintah Daerah (ketika Ramadhan) dll. Besar harapan kegiatan ini dapat terus berlangsung dan bukan sekedar formalitas dan insidental.
Salah satu gerakan subuh keliling yang ada di Kalimantan adalah di Barabai, Kab. Hulu Sungai Tengah,Kal Sel. Subuh keliling ini baru berumur 1 tahun, dan mulai digerakkan pada tanggal 7 Januari 2011 yang lalu. dan sekarang sudah mengelilingi sekitar 260 an Masjid/Mushalla atau langgar di Kab. Hulu Sungai Tengah.
Subuh keliling di Barabai merupakan swadaya masyarakat, dan merupakan kumpulan dari banyak unsur, dari pengusaha, guru, pedagang, PNS dan bahkan juga Wakil Bupati. Wakil Bupati Hulu Sungai Tengah, Ust. Faqih Jarjani salah satu orang yang sangat aktif dalam kegiatan subuh keliling ini.
Unsur ormas-ormas juga banyak terwakili disini, ada yang NU, Muhammadiyah serta juga ada kalangan partai. Namun sejak awal dimualinya Subuh Keliling ini sudah disepakati bahwa tidak ada kepentingan ormas ataupun partai yang dibawa dalam kegiatan ini, semuanya murni untuk syi’ar dan dakwah.
Subuh keliling biasanya dimulai dengan Shalat Tahajjud, Dzikir, Shalat Subuh Jama’ah, Taushiah dan dilanjutkan dengan makan bersama / ramah tamah. Adapun materi yang disampaikan juga sudah disepakati agar tidak menyentuh masalah-masalah khilafiyah, sehingga materi yang disampaikan hanya seputar : keutamaan shalat tahajjud, shalat subuh, shalat dhuha, membaca Al Quran dan shadaqah.
Dari subuh keliling ini terbangun silaturrahmi dan sekaligus toleransi, bagaimana tidak, dengan subuh keliling ini masyarakt bisa berkumpul bersama-sama dan makan bersama, begitupula dengan toleransi dalam masalah fiqh, seperti ketika subuh keliling di Masjid/Mushalla yang shalat subuhnya dengan qunut maka seluruh peserta subuh keliling juga qunut. Begitupula sebaliknya ketika tidak pakai qunut. dan juga toleransi dalam bidang-bidang yang lain.
Di barabai peserta subuh keliling belumlah terlalu banyak, biasanya rombongan berkumpul di suatu tempat dan terus melanjutkan dengan menggunakan mobil ke Masjid/Mushalla yang menjadi tujuan, kalau dihitung mobil maka sekitar 2-4 mobil yang digunakan (16-32 orang).
Mudah-mudahan subuh keliling ini terus berkembang di kota-kota yang lain, dan memberikan syi’ar dan dakwah sehingga masyarakat sadar tentang urgensi shalat jama’ah. Dan sangatlah bahagia dan takjub ketika suatu hari nanti kita dapat shalat subuh berjama’ah dengan banyaknya jama’ah seperti shalat jum’at kita. Semoga
