Arti dan Peranan Partai Politik


Sesungguhnya kemunculan partai politik dalam koridor teori partai politik ini tidak lepas dari semakin tingginya dinamika masyarakat yang membutuhkan fasilitas sistemik. Wujud dari upaya untuk memberikan fasilitas sistemik tersebut adalah tersedia lembaga-lembaga sosial (social institutions) Yang dapat digunakan sebagai alat bagi masyarakat dalam interaksi sosialnya. Dan salah satu dari berbagai pranata sosial yang ada itu salah satunya adalah partai politik.

Sebab Indonesia sebagai sebuah negara pada dasarnya dapat dianalogikan sebagai organisme hidup yang meng­alami pertumbuhan dan perkembangan. Jatuh bangunnya perkembang­an yang dialami bangsa Indonesia tidak dapat lepas dari partai politik. Sejak proklamasi 1945 dan dilanjutkan de­ngan pemantapan sistem politik nasional, kita dapat me­lihat bagaimana pemilu 1955 begitu ramai diikuti banyak peserta partai politik. Kemudian ketika Orde Baru berdiri, dan dikatakan banyak orang sebagai rezim diktator, ia juga tidak dapat lepas dari keberadaan partai politik.

Meskipun pada masa Orde Baru tersebut partai politik yang ada hanyalah merupakan komedi kekuasaan semata, tapi kita bisa melihat bahwa sebuah rezim diktator pun masih mem­butuhkan legitimasi politik dari partai politik dan pemilu.

Tak pelak, pada masa reformasi sekarang ini keber­adaan partai politik menjadi kian urgen. Dengan dibuka­nya kran demokrasi, berbagai aspirasi masyarakat meng­inginkan agar negara melakukan hal-hal yang dianggap­nya penting, dan itu disalurkan melalui partai politik. Ba­nyak pakar yang menilai bahwa partai politik peserta Pemilu lalu juga masih sangat kanak-kanak. Hal ini dibuktikan dengan masih bertebarannya partai-partai yang menjual ikatan emosional daripada partai yang be­nar-benar menjual program.

Posisi dan peranan partai politik dalam proses interaksi antara negara dengan rakyat dalam wujud kebijakan pu­blik, disadari telah menjadi idealitas terjauh dari identitas partai modern. Sebab bila partai politik tidak dapat ber­anjak dari fungsi konvensionalnya yang sebatas perebutan kekuasaan semata, maka dalam konteks dinamika sosial yang ada, hal tersebut tidak lagi menemukan signifikansi yang tinggi. Masyarakat modern adalah mereka yang me­mandang politik tidak lagi sebatas ikatan ideologis dan keyakinan semata.

Masyarakat modern lebih melihat politik sebagai proses aktualisasi diri dan kepentingan mereka yang akan diwujudkan dalam bentuk kebijakan publik.

Tentang aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 2 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih dan Muhammad Aqsha Ash Shiddiq Tampilkan semua tulisan oleh aviv

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 35 pengikut lainnya.