Tipologi partai politik ialah pengklasifikasian berbagai parpol berdasarkan kriteria tertentu, seperti asas dan orientasi, komposisi dan fungsi anggota, basis sosial dan tujuan. Klasifikasi ini cenderung bersifat ideal karena dalam kenyataannya tidak sepenuhnya demikian. Pembahasan ini penting dalam hal melihat sejauh mana fungsi-fungsi ideal partai politik dapat terwujud di Indonesia selama ini. Di bawah ini diuraikan sejumlah tipologi parpol menurut kriteria-kriteria tersebut.
Pertama, kita dapat melihat berdasarkan asas dan orientasi dari parpol tersebut. Berdasarkan asas dan orientasinya, parpol diklasifikasikan menjadi tiga tipe. Adapun tiga tipe ini meliputi parpol pragmatis, parpol doktriner dan parpol kepentingan.
Pertama, Yang dimaksud dengan parpol pragmatis ialah suatu partai yang mempunyai program dan kegiatan yang tak terikat kaku pada suatu doktrin dan ideologi tertentu. Artinya, perubahan waktu, situasi dan kepemimpinan akan juga mengubah program, kegiatan dan penampilan parpol tersebut. Penampilan parpol pragmatis cenderung merupakan cerminan dari program-program yang disusun oleh pemimpin utamanya dan gaya kepemimpinan sang pemimpin. Partai pragmatis, biasanya muncul dalam sistem dua partai berkompetisi yang relatif stabil.
Kedua, yang dimaksud dengan parpol doktriner ialah suatu partai politik yang memiliki sejumlah program dan kegiatan kongkrit sebagai penjabaran ideologi. Partai ini biasanya terorganisasikan secara agak longgar. Hal ini tidak berarti partai politik pragmatis tidak memiliki ideologi sebagai identitasnya. Dalam program dan gaya kepemimpinan terdapat beberapa pola umum yang merupakan penjabaran ideologi. Namun ideologi yang dimaksud lebih merupakan sejumlah gagasan umum daripada sejumlah doktrin dan program kongkrit yang siap dilaksanakan. Ideologi yang dimaksud ialah seperangkat nilai politik yang dirumuskan secara kongkrit dan sistematis dalam bentuk program-program kegiatan yang pelaksanaannya diawasi secara ketat oleh aparat partai. Pergantian kepemimpinan mengubah gaya kepemimpinan pada tingkat tertentu, tetapi tidak mengubah prinsip dan program dasar partai karena ideologi partai sudah dirumuskan secara kongkrit dan partai ini terorganisasikan secara ketat. Partai Komunis di mana saja merupakan contoh partai doktriner. Dan PKS pun sepertinya lebih dekat dengan klasifikasi partai doktriner ini.
Ketiga, Selanjutnya, parpol kepentingan merupakan suatu parpol yang dibentuk dan dikelola atas dasar kepentingan tertentu, seperti petani, buruh, etnis, agama, atau lingkungan hidup yang secara langsung ingin berpartisipasi dalam pemerintahan. Partai ini sering ditemui dalam sistem banyak partai, tetapi kadangkala terdapat pula dalam sistem dua partai berkompetisi namun tak mampu mengakomodasikan sejumlah kepentingan dalam masyarakat.
Partai politik kalau dilihat dari tujuan dan orientasi dari parpol itu sediri. Almond menggolongkan parpol berdasarkan basis sosial dan tujuannya. Menurut basis sosialnya, partai politik dibagi menjadi empat tipe, yaitu:
Pertama, parpol yang beranggotakan lapisan-lapisan sosial dalam masyarakat, seperti kelas atas, menengah, dan bawah
Kedua parpol yang anggotanya berasal dari kalangan kelompok kepentingan tertentu, seperti petani, buruh, dan pengusaha
Ketiga parpol yang anggota-anggotanya berasal dari pemeluk agama tertentu, seperti Islam, Katholik, Protestan, dan Hindu
Keempat parpol yang anggota-anggotanya berasal dari kelompok budaya tertentu, seperti suku bangsa, bahasa, dan daerah tertentu.
Walaupun permasalahan klasifikasi jenis partai ini tidaklah mudah dalam memberikan contohnya. Hal ini dikarenakan partai-partai politik Indonesia mengalami sebuah evolusi dalam pergerakannya dalam membentuk format partai yang ideal kedepannya. Kita lihat PDIP yang image-nya terbentuk sebagai partai orang abangan sekarang sudah membentuk Baitul Muslimin, PKS juga menyatakan sebagai partai terbuka dan nasionalis religius
Dalam kenyataannya, kebanyakan parpol tak hanya mempunyai basis sosial dari kalangan tertentu, tetapi juga dari berbagai kalangan dengan satu atau dua kelompok sebagai pihak yang dominan. Pendukung Partai Demokrat di Amerika Serikat pada umumnya berasal dari kalangan menengah dan bawah, berkulit hitam, dan Katholik. Hal ini tidak berarti pendukung partai ini tidak ada yang berasal dari kalangan atas, kulit putih dan Protestan.
Pengklasifikasian jenis partai yang dilihat dari sudut pandang secara umum, adalah seperti di bawah ini;
Pertama, Partai Proto. Jenis partai ini merupakan karakter dasar dari tipe awal parpol, yang biasanya ada dalam lingkungan parlemen atau intraparlemen. Basis pendukungnya adalah kelas menengah ke atas. Bentuk organisasi dan ideologinya relatif rendah (sederhana). Belum sepenuhnya sebagaimana dalam ciri parpol modern. Ciri faksional masih menonjol, dan ciri yang jelas adalah pembedaan antara kelompok anggota dan non-anggota. Di Indonesia saat ini kita memang tidak dapat melihat secara eksplisit jenis partai ini, sebab hampir semua partai mengatakan bahwa partainya adalah partai rakyat kecil. Namun di tingkatan praktik sesungguhnya banyak partai politik di Indonesia yang masuk dalam kategori ini. Mereka-mereka yang menduduki elite partai masih saja dipenuhi oleh orang-orang yang secara feodal dan hereditas merupakan keturunan dari kelas bangsawan (baik kebangsawanan religius maupun monarki).
Kedua, Partai Kader. Secara historis partai ini berkembang sebagai akibat hak pilih belum diberikan kepada masyarakat luas. Anggotanya kebanyakan kelas menengah ke atas, dan tidak memerlukan organisasi besar untuk memobilisasi massa. Di Indonesia partai yang masuk dalam kategori ini tidak begitu banyak. Karena penekanan partai kader sesungguhnya adalah terletak pada penguatan yang cukup tinggi pada level pengurusnya, dalam hal peningkatan kapasitas personalnya untuk kepentingan partai. Masih banyaknya kader loncatan yang berasal dari basis yang tidak jelas yang mewarnai partai politik di Indonesia, utamanya partai-partai pemenang Pemilu pada era reformasi.
Pada awalnya disinilah posisi Partai Keadilan atau sekarang Partai Keadilan Sejahtera, dimana PKS menumpukan pergerakannya pada kader, sehingga mobilitas partai sangatlah tinggi bergerak dengan aktif dan mandiri. Namun sekali lagi partai terus berproses, sekarang penulis berasumsi bahwa PKS adalah “Partai Kader Berbasis Massa” atau dalam kategori selanjutnya adalah partai catch-all. Namun ini sedikit berbeda dengan PKS di Kalimantan Selatan yang lebih pas nya disebut dengan “Partai Massa Berbasis Kader”. Hal ini dikarenakan PKS bergerak dengan kekuatan kultural/massa walaupun kader tetap ada namun dalam tatanan top leader-nya.
Ketiga, Partai Massa. Berkembangnya jenis ini karena adanya perluasan hak pilih rakyat. Parpol ini dihentuk di luar parlemen (ekstraparlemen). Orientasi parpol ini adalah kepada basis pendukung, yaitu buruh, petani dan massa lainnva. Tujuannva adalah untuk pendidikan politik dan pemenangan pemilu. Ideologi dan organisasinva rapi. Di Indonesia tidak dapat dikatakan sepenuhnva demikian. Sebab berbagai partai yang berbasis formal massa tertentu, seperti buruh, petani maupun massa lainnya itu sifatnya masih slogan saja. Artinya, basis massa yang dilembagakannya itu sebatas untuk menarik pemilih dalam pemilu semata, dan lebih dari, untuk melakukan pendidikan politik dan sebagainya, masih sangat jauh. Yang menarik di Indonesia justru partai-partai besar (PDIP, Golkar, PKB, PPP, PKS, PAN) justru bukan merupakan partai massa dalam konteks ini. Mereka lebih banyak sebagai partai ideologis, yang mungkin justru lebih masuk pada kategori partai catch-all.
Keempat, Partai Diktaktoral. Jenis ini adalah merupakan subtipe partai massa. Ideologinya kaku dan radikal. Pimpinan tertinggi melakukan kontrol ketat. Rekrutmen anggotanya sangat ketat, di mana anggota parpol dituntut mengabdi secara total. Di Indonesia jenis partai ini banyak juga ditemukan, terutama pada partai-partai baru yang berangkat dari ideologisasi yang baru pula. Misalnya Partai Keadilan (PK) dan sekarang menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Ikatan ideologisasi dari partai-partai ini sangatlah kuat. Di dalam rekrutmen dan kaderisasi anggotanya pun sangat ketat dalam konteks konsistensi mereka terhadap ideologi yang dianutnya. Namun sesungguhnya di tingkat pengambilan keputusan, istilah “diktatoral” tampaknya kurang tepat. Hanya saja di sini lebih pada aspek konsistensi dan ketatnya implementasi ideologi yang coba dikembangkan oleh partai-partai jenis ini.
Kelima, Partai Catch-All. Jenis partai ini merupakan gabungan antara partai kader dan massa. Mereka berusaha menampung kelompok sosial sebanyakbanyaknya untuk menjadi anggotanya. Tujuannya memenangkan pemilu berkaitan dengan berkembangnya kelompok kepentingan dan penekan, dan ideologinya tidak terlalu kaku. Seperti telah dikatakan di muka bahwa sebagian besar partai politik di Indonesia pemenang Pemilu pada era reformasi adalah masuk dalam kategori jenis ini. Partai-partai besar yang ada sekarang memang hidup tidak mengandalkan ideologi, namun penguatan pada kuantitas basis massa, Meskipun demikian mereka juga melakukan kaderisasi di internal elit pengurusnya, sehingga konsekuensinya adalah terabaikannya proses pendidikan politik. Banyaknya jenis partai seperti ini sesungguhnya masih sedikit jauh dari cita-cita partai modern, terutama ketika transformasi di tingkat masyarakat tidak dapat berjalan secara efektif.