Partai Politik Modern


Partai politik modern adalah partai yang mampu ber­fungsi sebagai saluran masyarakat dalam mempengaruhi kebijakan publik. Indikasi parpol modern adalah adanya kongruensi antara platform partai politik dengan kebijak­an publik. Terlepas dari menang kalah dalam pemilu, se­buah parpol modern tetap berfungsi sebagai representasi dari aspirasi masyarakat. Karena bagi parpol yang bukan mayoritas, mendapatkan kursi dalam pemerintahan atau bahkan tidak mendapatkan sama sekali, suatu parpol mo­dern akan memosisikan diri sebagai oposisi pemerintah dan tetap memegang kontrol terhadap kebijakan publik yang diterbitkan pemerintah.

Adanya parpol lebih karena diberlakukannya sistem perwakilan dalam proses politik. Dengan sistem perwa­kilan politik diperlukan institusi legal-formal yang dapat mengawal proses politik tersebut. Dalam kelanjutannya, hubungan antara masyarakat sebagai konstituen politik dengan kekuasaan negara dijembatani oleh suatu sistem kepartaian tertentu. Sampai pada titik inilah menjadi rele­van untuk dibuka perbincangan mengenai kongruensi an­tara  patform dengan produk kebijakan politik yang dike­luarkan atas kemauan dan partisipasi partai politik, yang seharusnya meniscaykan partisipasi publik.

Ada anggapan normatif bahwa parpol berperan seba­gai instrumen yang memperlancar proses kebijakan publik demokratik, dan ini umumnya berbeda dengan realitas­nya. Harapan rakyat sebagai pemilih seringkali terkorban­kan demi kepentingan elit kekuasaan. Platform partai adalah sebuah kontrak dengan rakyat yang mengabsahkan keberadaan politisi dalam parlemen. Sementara jika kebijakan yang diberla­kukan oleh partai pemenang pemilu mencerminkan apa yang telah mereka janjikan sebelum pemilu, maka ini me­nunjukkan bahwa konstituen telah menetapkan sebuah pilihan yang tepat.

Ke depan ada kecenderungan masyarakat pemilih di Indonesia semakin hari semakin menunjukkan dirinya untuk menjadi pemilih rasional. Banvak masyrakat yang berhitung dan menilai keberadaan parpol, dan tentu saja masih banyak pula yang tidak tahu mengenai politik mau­pun parpol. Kecenderungan meningkatnya pemilih rasio­nal dan menurunnya pemilih yang tidak rasional ini harus diantisipasi oleh parpol di Indonesia.

Kecenderungan tersebut paling tidak dicerminkan da­ri pertama, adanya kelompok masyarakat yang menyata­kan golput pada Pemilu 2004 dan 2009, rata-rata memilih alasan sudah tidak percaya pada parpol, ingin tetap netral, ikut pemilu tidak menguntungkan, parpol tidak mampu me­nyuarakan aspirasi rakyat, trauma pada parpol masa lalu, dan beberapa alasan lainnya. Tetapi intinya adalah ber­persepsi buruk terhadap keberadaan parpol yang ada dan merasa tidak ada untungnya berpartisipasi dalam pemilu. Rata-rata yang menytakan golput ini datang dari yang berpendidikan tinggi (mahasiswa, sarjana, akademisi) juga yang secara ekonomi telah mapan. Kedua, kelompok yang menyatakan beralih pilihannya pada parpol lain, alasan­nva karena parpol pilihannya dulu telah gagal memper­baiki keadaan bangsa, harga kebutuhan pokok dan tarif dasar pelayanan umum semakin naik, telah menemukan sosok parpol yang lebih pas dan lain-lain.

Adapun bagi kelompok yang menetapkan pilihannya pada parpol yang sama untuk Pemilu 2004 dan 2009,  rata-rata atas dasar alasan emosional (bukan rasionalitas politik), yaitu alasan figur atau ketokohan dalam  parpol, parpol tersebut sesuai dengan basis kulturalnya, sudah merasa wajib un­tuk memilih parpol yang sama dan lain-lain.

Kecenderungan tersebut menggambarkan bahwa ma­syrakat akan bergerak menuju rasionalitas. Dari sini saran bagi parpol peserta Pemilu 2014 adalah bahwa untuk me­ngetahui keadaan masyarakat senyata-nyatanya bukanlah dengan asumsi semata, melainkan harus benar-benar ter­jun dan terlibat sendiri dalam masyarakat, dan selanjutnya menganalisis keadaan berdasarkan data-data riil yang di­jumpai selama berinteraksi dengan masyarakat. Itulah par­pol yang tanggap keadaan.

Parpol modern akan bertanggung jawah atas platform yang telah disosialisasikan sebagai janji politik pada masyarakat saat kampanye sebelum pemi­lihan umum. Semangat untuk secepatnya mewujudkan cita-cita demokrasi bisa ditunjukkan dari peranan parpol untuk mengawal demokrasi di era transisi ini. Perilaku masa lalu partai politik yang “tidak dewasa”, terutama saat partai politik ingkar janji pada masyarakat, menun­jukkan adanya jarak yang jauh atas platform partai de­ngan realitas politik, dan dengan aspirasi konstituennya. Di sini parpol perlu mengevaluasinya dan menjadikannya sebuah “pekerjaan rumah” yang selanjutnya perlu dilan­jutkan dengan tindakan-tindakan profesional dalam menjalankan fungsi-fungsinya.

Dalam mencermati kongruensi produk kebijakan yang dibuat pemerintah berkuasa dengan platform parpol, kita perlu melihat momen pemilihan umum sebagai titik peng­ingatnya. Dengan asumsi bahwa partai politik telah be­kerja keras (untuk kampanye) sebelum pemilu berlangsung, apakah setelah pemilihan umum parpol masih bekerja ke­ras juga untuk menepati janjinya? Pertanyaan ini adalah problem utama dan pertama yang mesti dicarikan jawab­annya oleh para kontestan pemilu.

Sebelum pemilihan umum ada masa berkampanye ba­gi parpol. Sudah barang tentu kampanye parpol meru­pakan kegiatan yang paling menyita energi parpol, karena pada saat inilah performa partai harus nampak sesem­purna mungkin untuk mendapatkan perhatian dan sim­pati orang-orang yang bakal menjadi pemilihnya. Pada saat ini parpol tampil bak sekuntum bunga yang indah merekah yang siap memberikan sarinya kepada kumbang-­kumbang pencari madu.

About these ads

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 2 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih dan Muhammad Aqsha Ash Shiddiq Lihat semua pos milik aviv

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: