Orang-Orang Besar dari Penjara


Penjara badaniah tak sekalipun kuasa memenjarakan kebesaran jiwa seorang hamba Allah yang tetap merdeka, sejarah pula yang akhirnya mencatat bahwa dari dalam penjara lahir karya-karya besar dalam sejarah

Kata-kata Nabi Yusuf berikut ini diabadikan dalam Al-Qu’ran: “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.” (Q.S.Yusuf 12:33)
**
Dalam bayangan tidak sedikit orang, penjara adalah kelumpuhan. Penjara adalah kematian. Tidak ada yang menghendaki dirinya masuk penjara. Tetapi tanpa disadari ternyata banyak karya besar lahir dari penjara. Bukan hanya karya, melainkan manusia-manusia besar dalam sejarah peradaban pernah lahir dari penjara.

Sejak usia muda keaktiafannya dalam pergerakan melawan pemerintahan kolonila Bealanda membuat dirinya menjadi target penangkapan polisi Belanda. Pada tanggal 29 Desember 1929, Sukarno ditahan untuk diadili. Sukarno ditangkap di Yogyakarta ketiak usianya baru berumur 28 Tahun suatu usia yang sangat muda dibandingkan pengaruh politiknya yang besar.

Sukarno, Dari Balik tembok penjara, Sukarno menulis sebuah pledoi (Pidato pembelaan) yang diberi nama Indonesia Menggugat. Pledoi ini kemudian dibacakan di Gedung landraad (pengadilan rendah) pemerintah kolonial Belanda di Bandung. Pengalaman sebagai orator ulung di PNI membuat Sularno mampu mengubah sidang yang semula diniatkan pemerintah Belanda untuk menjatuhkan Sukarno menjadi seperti rapat umum dimana Sukarno seolah menjadi bintangnya.

Nawal El Saadawi, perempuan Mesir, menulis Memoar dari Perempuan Penjara. Ia dipenjara sejak tahun 1981 oleh rezim Anwar Sadat. Bayangkan, ia menulis dengan kertas toilet dan pensil alis. Buku karya Murnia Abu Jamal, Live from Death Row dan All things Censored, pernah disetarakan dengan Letter from Birmingham Jail karya marthin Luher king Jr. Keduanya lahir dari penjara.

Sayyid Quthb, sebelum syahid di tiang gantungan,menyelesaikan karya fenomenal, Tafsir Fi Zhilalil Quran. Termasuk buku Ma’alim fi Thariq (Petunjuk Jalan) dan risalah kecil Mengapa Saya Dihukum Mati.

Hitler menulis mein kampf dalam penjara juga. Buku itu yang menjadi inspirasi bangsa Jerman untuk bangkit dan berusaha menaklukkan bangsa lain.

Tan malaka. Tokoh besar dalam sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia. Ia menulis buku Madilog di penjara.

Pramoedya Ananta Toer, Penjara bukanlah hal baru bagi Pram, panggilan akrab bagi Pramoedya Ananta Toer, akibat tulisan-tulisannya, Pram sering dipenjarakan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, rezim Sukarno maupun rezim Suharto. Pada masa rezim Sukarno Pram ditahan di pulau buru, disinilah Pram melahirkan 4 Novel legendaris yang disebut Tetralogi buru. Pram menerbitkan Tetrologi Buru sekitar tahun 1980-an setalah keluar dari penjara, meskipun roman itu telah dirancang sejak tahun 1956.

Buya HAMKA sempat menjadi perbincangan internasional. Tafsir Al-Azhar, yang ditulisnya, mengingatkan orang dengan Sayyid Quthb. Tafsir itu lahir di penjara. Bahkan, Buya HAMKA pernah berterima kasih secara khusus kepada Soekarno yang telah memenjarakannya.

Ibnu Taimiyah, dari balik jeruji pernah berkata, “Apakah gerangan yang akan diperbuat musuh-musuhku kepadaku? Syurgaku dan kebunku ada di dadaku. Ke mana pun aku pergi, dia selalu bersamaku dan tidak pernah meninggalkanku. Sesungguhnya penjaraku adalah tempat khuluwat-ku, kematianku adalah mati syahid, dan terusirnya diriku dari negeriku adalah rekreasiku”. Bagi Ibnu Taimiyah, yang terpenjara adalah fisik atau jasmani. Namun, jiwa dan ruhani tetap merdeka. Kemerdekaan hakiki memang bukanlah dari kemerdekaan fisik, melainkan yang lebih utama ialah kemerdekaan jiwa. Apabila jiwa sudah tertawan, maka seluruh potensi jasmani telah tersandera. Ibarat mati. Maka, hati-hatilah terhadap penjara yang tak tampak di sekitarmu. Bisa jadi kau tidak melihatnya. Bisa jadi, tanpa sadar, selama ini kita telah tertawan, tersandera, tertahan, dan terbelenggu oleh ‘sesuatu’! Sesuatu itu bisa apa saja. Tampak atau tak tampak. Dalam pikiran, ataupun terasa oleh indera.
Tawakul karman, salah satu aktifis partai Al Ishlah di Yaman (mafestasi Ikhwanul Muslimin di Yaman) Pada awal tahun 2011, bulan Januari, dunia menyorotnya karena ia ditangkap oleh pemerintah Yaman dari dalam mobilnya. Ia pun dijebloskan ke dalam penjara. Padahal bukan hanya kali ini saja ia dipenjara oleh rezim Ali Abdullah Saleh, ia berkali-kali dipenjara. Hal itu memicu ribuan demonstran turun ke jalan menuntut pembebasannya. Hal inilah yang mendorong revolusi Yaman, Tawakul karman menyebutnya “Revolusi Melati”.
Atas kampanye dan perjuangannya tanpa kekerasan, Komite Nobel menganugerahkannya penghargaan Nobel Perdamaian bersama dua wanita lainnya, Presiden Liberia Ellen Johnson-Sirleaf dan Leymah Gbowee. Atas penghargaan tersebut, Tawakul Karman menjadi wanita Arab pertama yang memperoleh penghargaan Nobel, sekaligus termuda dengan umur 32 tahun.

US Secretary of State Hillary Clinton (R) listens to Yemeni Nobel Peace Prize winner Tawakkul Karman speak to the press following talks at the State Department in Washington,DC on October 28, 2011

US Secretary of State Hillary Clinton (R) listens to Yemeni Nobel Peace Prize winner Tawakkul Karman speak to the press following talks at the State Department in Washington,DC on October 28, 2011

Prof. Dr. Muhammad Badi, Mursyid ‘Amm Ikhwanul Muslimin, menelpon langsung Tawakul Karman setelah mendengar kabar penghargaan Nobel Perdamaian untuk salah seorang kadernya tersebut. Beliau mengucapkan selamat atas penghargaan internasional tersebut, seraya menyatakan bahwa penghargaan ini merupakan simbol kerhormatan perempuan Dunia Arab dan Dunia Islam. Dan Perempuan ini pernah dipenjara.

Tahukah Anda Dakwah Islam di AS dan Erofa berhasil salah satunya lewat Penjara.

Bimbingan rohani Islam di penjara-penjara AS dimulai pada era tahun 1970-an atas prakarsa pemimpin organisasi Muslim Nation of Islam, Louis Farrakhan. Profesor di Vassar College, Lawrence Mamiya yang meneliti keberadaan tahanan Muslim di penjara-penjara AS mengatakan, keterlibatan para imam Muslim di AS sangat efektif dalam upaya rehabilitasi keagamaan para tahanan.

Menurut Mamiya, dipekirakan 10 persen dari seluruh tahanan yang ada di penjara AS memilih masuk Islam. Itu artinya, sekitar 1.800 dari 18.000 jumlah tahanan di penjara-penjara AS menjadi seorang Muslim. Walaupun banyak yang mengatakan bahwa setelah keluar penjara, mereka kembali lagi ke agama asalnya, namun ini menjadi perdebatan dan kajian panjang

Agama Islam telah menarik sejumlah besar narapidana di penjara Feltham Young Offenders di London Barat untuk menjadi Muslim. Gelombang besar perpindahan agama menyebabkan sepertiga penghuni penjara terkenal di Inggris itu kini adalah mualaf.

Menurut Departemen Kehakiman, angka mualaf di penjara itu kini mencapai 229 Muslim dari total 686 pemuda di sana. Pada waktu shalat Jumat, jamaah semakin membludak sehingga jamaah harus dibagi antara masjid Feltham dan fasilitas gym yang ada di penjara.

Ketika Dakwah Menembus Jeruri,

Berkat kegigihan, kesabaran dan keikhlasan para dai, banyak narapidana yang mendapat hidayah-Nya. Tak sedikit yang mengaku bahwa lapas adalah tempat yang tepat untuk bermuhasabah.

Sejarah telah mencatat bahwa Penjara Mesir pernah berubah menjadi pondok-pondok keimanan, penjara menjadi tempat menghafal Al Qur’an, Penjara menjadi tempat halaqah-halaqah keilmuan. Ketika ribuan aktifis Ikhwanul Muslimin dijebloskan dalam penjara Rezim Mesir. Banyak yang setelah keluar penjara mereka bertambah keimanan dan hafalan Al Qurannya. Dan banyak tokoh-tokoh pemerintahan eksekutif dan legisltaif yang juga pernah merasakan penjara, dan setelah mereka keluar mereka jadi pahlawan.
Penjara menjadi tempat yang suci bagi orang-orang besar, Penjara menjadi lahan dakwah para dai. “Dakwah di Penjara lebih mudah, karena hati yang menerima juga lagi kosong dan gersang, butuh siraman”. Itulah yang disampaikan Ust. Faqih Jarjani, ketika menjelaskan tentang dakwah di Penjara.
Semoga orang-orang yang merasakan kehidupan di Penjara menjadi berkah kehidupannya dan keberkahan orang disekitarnya.
Dikumpulkan dari berbagai sumber.
About these ads

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 2 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih dan Muhammad Aqsha Ash Shiddiq Lihat semua pos milik aviv

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: