Kudeta


Tulisan ini merupakan tulisan terakhir dari empat tulisan yang saling berkaitan dan memang saya harapkan bisa dicerna dengan mudah untuk memahami kondisi Mesir dalam minggu-minggu ini. Tulisan-tulisan ini adalah : Kudeta Mesir, Transisi Demokrasi, Mahkamah Konstitusi dan Kudeta.

——————————————

Kudeta dalam bahasa Perancis : coup d’État  yang berarti merobohkan legitimasi  atau pukulan terhadap Negara  adalah sebuah tindakan pembalikan kekuasaan terhadap seseorang yang berwenang dengan cara ilegal dan sering kali bersifat brutal, inkonstitusional berupa “penggambilalihan kekuasaan”, “penggulingan kekuasaan” sebuah pemerintahan Negara dengan menyerang (strategis, taktis, politis) legitimasi pemerintahan kemudian bermaksud untuk menerima penyerahan kekuasaan dari pemerintahan yang digulingkan. Kudeta akan sukses bila terlebih dahulu dapat melakukan konsolidasi dalam membangun adanya legitimasi sebagai persetujuan dari rakyat serta telah mendapat dukungan atau partisipasi dari pihak non-militer dan militer

Beberapa tahun yang lalu saya pernah membeli sebuah Jurnal Angkasa Edisi Koleksi dengan Judul “Kudeta Coup d’etat – Gerakan Ilegal Merebut Kekuasaan” ,  Jurnal ini merupakan Jurnal  Angkasa Edisi Koleksi No. XXXVII 2007. Selanjutnya saya akan kutipkan beberapa statement penting dalam jurnal tersebut.

Dalam tradisi suksesi kepemimpinan dunia, kudeta telah menjadi bagian tak terpisahkan. Pengambilan kekuasaan secara instan ini biasanya dilakukan atas dalih menyelamatkan Negara dari krisis atau kehancuran . banyak yang berjalan transparan tetapi tidak sedikit yang berjalan samar, memiliki agenda tersembunyi dan menjadi untold story.

Anggap saja Gerakan 30 September 1965 yang berujung pada Supersemar dan peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto merupakan cerita yang samar dan untold story sampai sekarang. Atau peristiwa kemaian Presiden Amerika John F Kennedy , juga menjadi hal yang sama, tak terungkap dengan jelas siapa pelakunya.

Secara taktis pihak militer biasanya dimamfaatkan karena memang hanya kekuatan militerlah yang bisa melakukannya secara instan. Mereka juga mampu mengambil alih control segala sendi kepemerintahan dan infrastruktur strategis secara cepat.

Penggunaan kata “instan” dan “pengambilan control secara cepat” begitu penting artinya karena hanya dengan kata-kata inilah esensi kudeta bisa dibedakan dari revolusi. Revolusi sendiri bisa diartikan sebagai upaya mengubah sistem  politik di suatu Negara dengan cara radikal dan hamper selalu diakhiri dengan penggantian pimpinan pemerintahan. Perbedaan selanjutnya adalah, kudeta biasanya digerakkan oleh unsure militer, sedangkan revolusi digerakkan oleh kekuatan rakyat / politik.

Pada dasarnya alasan kudeta adalah untuk menyelamatkan Negara karena krisis dan dari kehancuran namun juga tidak sedikit yang mana kudeta hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Teknik dasar kudeta merupakan sebuah operasi untuk melakukan pendudukan organ-organ sentral dari sebuah Negara termasuk melakukan penetralan kekuasaan dengan menduduki tempat-tempat simbolis kekuasaan dari negara.

Pengambilan alihan kekuasaan merupakan tindakan selain melakukan pendudukan organ-organ sentral oleh para pelaku kudeta dengan disertai pnghentian para penjabat pemerintahan atau para pemegang kekuasaan negara oleh karena bila hal ini tidak terlaksana maka akan terjadi pengaturan tanggapan terhadap gerakan kudeta tersebut dan kudeta tersebut kemungkinan besar akan gagal.

Peneliti Senior CSIS Washington DC, Prof. Dr. Edward Luttwak menyatakan bahwa hal-hal yang memungkinkan kudeta terjadi adalah, Pertama : jika ditengah keterpurukan kondisi social dan ekonomi, kaum politisi enggan lagi memperhatikan kelompok-kelompok kecil di masyarakat. Kedua : jika pemerintah cenderung independent atau meminimalisasi pengaruh asing untuk segi perpolitikan internal. Dalam point inilah menurut    Prof. Dr. Edward Luttwak, Amerika Serikat merupakan Negara yang sangat rawan kudeta. Ketiga : jika Negara yang bersangkutan dikendalikan atau didominasi oleh satu kekuatan politik tertentu. Para pelaku kudeta akan berusaha menundukkan kekuatan politik ini. Pasalnya hanya dengan menguasai satu mata rantai ini saja maka serta merta mereka akan menguasai pemerintahan secara keseluruhan.

Kudeta hanya focus pada pucuk kekuasaan. Itu sebabnya tindakan mereka sebenarnya tidak membahayakan para elit politik di luar system yang tengah diincar. Para posisi krisis, ketika kudetabaru saja dilancarkan, mereka akan meluangkan waktu untuk menunggu respon dari semua kekuatan politik. Nah pada saat inilah posisi mereka sebenarnya amat rapuh. Saat itu seorang panglima militer seharusnya bisa segara menumpas dengan alasan untuk mengamankan system yang sah. Para elit politik lainnya saat itu semestinya juga berkesempatan  untuk menolaknya. Kelambatan dalam mengambil respon atau tindakan justru akan melapangkan jalan mereka untuk mengambil alih kekuasaan

Indonesia dalam lintasan sejarah terutama ketika jaman kerajaan maka akan kita bahwa sering terjadi kudeta, adapaun ketika pasca kemerdekaan, Republik Indonesia paling tidak yang kita ketahui adalah kudeta yang samar, yaitu Gerakan 30 September 1965, yang sering juga disebut dengan kudeta Jawa yang penuh cara santun dan kolonuwun.

Dalam kasus Mesir sebenarnya pernah ada kudeta yang transparan ketika Gamal Abdun Naser melakukan kudeta terhadap Raja Farouk, yang akhirnya membawa perubahan yang luar biasa terhadap Mesir. Adapun yang terjadi dalam minggu-minggu ini di Mesir dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi Mesir yang menyatakan Undang-undang (UU) Pemilu Parlemen tidak konstitusional, yang akhirnya juga menetapkan hasil pemilu juga tidak sah. Dan berlanjut pada putusan  membubarkan parlemen Mesir, dan berlanjut dengan mengembalikan kekuasaan kepada Militer.

Kondisi yang rawan dan berbahaya ini akan sangat bisa berlanjut dengan tidak ditetapkannya hasil Pemilu Presiden Tahap Kedua, atau tidak diakuinya hasil Pemilu Presiden yang ada, dan semuanya akan berakhir pada krisis berkepanjangan dan kekosongan presiden, dan tentunya ini sangat menguntungkan bagi militer untuk melakukan  gerakan selanjutnya.

Tindakan awal Mahkamah Konstitusi dan Militer Mesir dengan menetapkan hasil pemilu  tidak sah dan berlanjut pada putusan  membubarkan parlemen Mesir dapat dikatakan sebagai kudeta yang samar, kudeta yang lembut (shoft coup) atau  kudeta kecil, seperti yang dikatakan Wakil Presiden Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), Mohammed el-Beltagy.

Kudeta menjadi jalan tol bagi orang dan kelompok yang ingin kekuasaan dengan cara yang instan, Kudeta jadi jalan untuk tetap menjaga kekuasaan yang akan hilang.

About these ads

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 2 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih dan Muhammad Aqsha Ash Shiddiq Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: