Negara Tanpa Rakyat (1)


Rakyat menjadi sebuah kata yang sangat sarat dengan sebuah kegamangan, kenapa tidak!, kadang rakyat sebuah Negara menjadi sangat terhormat dan terbedayakan mungkin kita bisa lihat hal ini dinegara-negara tetangga kita, mereka hidup makmur dan sejahtera. Namun di lain sejarah dan batasan Negara rakyat hidup penuh dengan tipuan para penguasa disertai pembodohan secara politik. Rakyat hanya menjadi komoditas kepentingan sementara para penguasa, baik itu penguasa secara politik maupun penguasa modal capital. Alangkah naif kalau rakyat yang terdidik dengan peradaban dan moralitas namun mereka ditindas dan dibodohi oleh para penguasa birokrat setingkat pendidikan TK yang menang dalam proses politk kotor, atau ditindas secara ekonomi oleh para colonial-kolonial pribumi (ataupun asing) yang hanya berbicara dengan uang atau kekarasan (premanisme). Itulah negeri yang sangat menyedihkan untuk dibayangkan apalagi untuk dipikirkan.

rakyat kecil korban Negara

rakyat kecil korban Negara

Negeri yang memeliki rakyat sangatlah beragam dengan ragam budaya, bahasa, suku, kultur social, adat budaya, mata pencaharian, hukum, agama, ras suku bangsa, warna kulit serta yang lainnya. Namun dalam perbedaan itu mereka sama-sama dibodohi oleh para pemimpin mereka. Negeri di mana rakyat hanya bisa berteriak namun tidak ada yang mau mendengar, dimana rakyat hanya bisa melihat tanpa bisa bertindak, dimana rakyat hanya bisa kesakitan tanpa bisa meminta tolong, harapan akhir rakyat ini hanyalah kiamat dengat cepat datang sehingga mimpi buruk ini akan segera berakhir. Rakyat Negara ini hanyalah bisa makan dan minum dengan apa yang mereka sebenarnya tak sanggup untuk makan, ataupun malah bisa dimakan namun mereka makan sambil menagis. Rakyat yang terbodohkan.

Rakyat sebenarnya adalah penguasa Negara, karena merekalah yang membentuk Negara menjadi sesuatu yang diakui sebagai sesuatu yang disebut sebagai Negara. Rakyatlah yang membangun Negara. Rakyat pulalah yang membela Negara. Rakyat membayar pajak, rakyat siap berperang demi tanah air. Rakyat siap mengorbankan apa yang mereka miliki termasuk jiwa raga mereka demi kehormatan suati negeri dan bangsa. Namun penguasa itu sudah dilumpuhkan oleh penguasa simbolik pemerintahan. Penguasa itu hanyalah berumur sebentar namun ingin berumur panjang dan ingin terus mengambil keuntungan. Penguasa yang mana berani berkorban demi rakyatnya? Penguasa mana yang mau dan siap melayani rakyatnya. Penguasa mana yang siap lebih rendah kehidupannya daripada rakyatnya, penguasa mana yang akan membersihkan rumah rakyatnya, penguasa mana yang memerikan makan kepada rakyatnya, penguasa mana yang mau mengobati rakyatnya yang sakit, penguasa mana…… ?.

Negara itu sudah diujung tombak untuk menemui sebuah kehancuran, ditengah suara gemuruh kehidupan mewah dan penuh royal, disanalah terdapat sebuah kehinaan. Kehinaan karena tidak mempunyai harapan untuk hidup lebih berarti, serta tidak memiliki keprihatinan terhadap sesama. Rakyat sudah dibawa kearah yang salah oleh para penguasa. Rakyat hanya bisa meniru dan mengikuti kemauan mereka. Rakyat sudah tidak punya pilihan, atau malah rakyat sendiri yang tidak mau memilih. Padahal pilihan itu tetap ada dan akan selalu ada, pilihan untuk bangkit atau pilihan untuk tetap tertindas dan terbodohkan. Rakyat sebenarnya bisa memilih itu. Begitupula para penguasa mereka juga bisa untuk memilih untuk menindas dan hidup mewah sendirian atau pilihan lain untuk memlayani dan hidup sederhana bersama demi kemajuan bangsa.

Rakyat adalah pewaris bangsa. Rakyat adalah masa depan negeri. Rakyat dengan lantang bisa untuk bangkit dan berbicara dan sekaligus bertindak , dan seraya didengarkan oleh para penguasa mereka. Rakyat harus belajar untuk bicara, atau malah harus memaksa untuk bisa bicara, rakyat harus siap dengan permasalahan-permasalahan bangsanya, karena permasalahan itu adalah permasalahan negeri bukan sekedar permasalahan penguasa. Rakyat haru sbelajar untuk menyikspi serta sekaligus memecahkan masalah. Rakyat harus lebih diberdayakan demi menuju rakyat yan lebih cerdas!. (230206)

 

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: