Negara Tanpa Rakyat (2)


Pada jaman penjajahan baik penjajahan di Timur Tengah ataupun di Asia Tenggara pada tahun 1940-an telah mencatat sebuah gambaran bagaimana sebuah Bangsa, tanah air dan Negara menjadi sebuah perekat yang sangat kuat untuk membentuk rakyat yang pemberani dalam mengorbankan seluruh harta, waktu dan jiwanya dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Penjajahan seperti memiliki seribu berkah bagi yang namanya konsolodasi internal kerakyatan. “Bersatu Padu” merupakan kata yang sangat cocok dalam menggambarkan gerakan kerakyatan pada waktu itu. Rakyat menjadi pejuang sejati dalam kemerdekaan setiap bangsa. Rakyat menjadi panglima seluruh parjurit negeri.

Konflik Eksternal dalam pembahasan kajian “Manajemen Konflik” memang kadang harus di buat secara senagja demi memberikan efek soliditas internal dalam sebuah komunitas, karena tanpa dapat diketahui secara langsung sebuah konflik eksternal membuat sebuah bangsa memiliki “common anamy” musuh bersama yang nyata. Dengan musuh bersama inilah rakyat menjadi tergugah dalam memperjuangkan hak-hak mereka secara bersama-sama dan dengan pengorbanan yang tidak kalah besar dengan para pahlawan-pahlawan besar nasional, yang memang sejatinya Pahlawan Besar itu adalah Rakyat itu sendiri. Merekalah yang menjadi bemper dalam perjuangan melawan penjajahan. Perlawanan kerakyatan ini akan lebih lama bertahan daripada perlawanan sebuah militer formal sebuah Negara. Perlawanan kerakyatan akan sangat sulit untuk ditumpas karena perlawanan itu mengakar dalam setiap rumah dan keluarga.

Gerakan Rakyat

Gerakan Rakyat

Rakyat akan tetap menjadi sebuah bahan bakar sebuah perlawanan kebangsan dan menjadikan bukti sejarah bahwa rakyat sebenarnya merupakan pemilik sekaligus penguasa sebuah bangsa manapun didunia ini, sehingga sebenarynya garisan sejarah ini seharusnya menyadarkan ribuan penguasa/pemimpin yang otoriter dan menindas para bahan baker serta pemilik bangsa itu sendiri. Penindasan rakyat oleh para penguasa merupakan kezhaliman terbesar dalam catatan sejarah abad baru sekarang, apakah itu pemimpin satu bangsa menindas rakyat bangsanya sendiri atau malah pemimpin negeri lain yang manindas dan menyengsarkan rakyat orang lain. Sejarah telah mencatat perlakukan keji ini.

Rakyat sampai sekarang masih dalam tatanan terindas dan terbodohkan. Kalauu kita mau jujur terhadap hati nurani kita, maka kita dapat mmbagi Negara dalam dua bagian besar yaitu, yaitu Negara normal dan Negara abnormal. Negara normal dimana seseorang tidak butuh keberanian untuk melakukan sebuah kebaikan, sedangkan untuk melakukan sebuah kejahatan mereka membutuhkan sebuah keberanian yang sangat besar, karena kejahatan merberikan resiko yang sangat besar bagi mereka. Adapun Negara abnormal malah sebaliknya seseorang sangat membutuhkan keberanian ketika ingin melakukan kebaikan dan malah tidak membutuhkan apapun dalam melakukan sebuah kejahatan. Rakyat akan selalu tertindas oleh penguasa Negara yagn abnormal.

Kekejaman ini seharusnyalah sudah berakhir sampai disini. Saatnya rakyat untuk sadar diri serta membina diri mereka demi kebangkitan negarinya. Sudah saatnya mereka menungkapkan sebuah teriakan perlawanan terhadap kultur mereka yang bobrok terutama teriakan perlawanan terhadap para penguasa. Teriakan yang harus didengar.

Merdeka Yang Kesekian Kali nya

Merdeka Yang Kesekian Kali nya

“Kami rakyat bangsa-bangsa menuntut para penguasa unutk mempedulikan nasib rakyatnya, memperhatikan pembinaan anak bangsa, pendidikan para pelajar dan mahasiswa, membantu para pengangguran, anak jalanan serta orang fakir miskin. Kami rankyat bangsa-bangsa menuntut perbaikan dalam segala aspek kehidupan berbangsa.

“Kami rakyat bangsa-bangsa menunut kepada diri sendiri unutk memulai berbenah diri untuk melakukan perbaikan kultur kerakyatan. Kerakyatan yang lebih cerdas dan maju. Rakyat yang merdeka dari segala penindasan, baik penindasan secara fisik, ekonomi, social maupun secara politik. Demi itu kami siap untuk berjuang kembali, dan MERDEKA untuk kedua kalinya. Hidup Rakyat.(240206)

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: