Mencari Pahlawan Indonesia


Buka ini merupakan salah satu buku kesukaanku, kata sang penulis ketika bedah buku ini, Buku “Mencari Pahlawan Indonesia” adalah buku bantal, buku yang sangat cocok menemani kita ketika istirahat dan mau tidur.

Buku Mencari Pahlawan Indonesia adalah kumpulan essay Ustadz Anis Matta yang ditulis sejak tahun 1999 dan dimuat secara berkala di majalah Tarbawi. Buku ini terlahir dari pergulatan-pergulatan besar di negeri ini, dimana Indonesia berada pada puncak krisis kepahlawanan, jika melihat dari kepemimpinan masa awal kemerdekaan hingga kini. Krisis ini berlatar dari perilaku penguasa-penguasa saat itu yang tampuk kekuasaan dilandasi oleh balas dendam atas kemiskinan atau bahkan penindasan yang mereka derita di masa lalu.
Ustadz Anis menegaskan bahwa kesadaran akan waktu dimiliki oleh orang-orang yang memberikan usia-usia produktifnya untuk pekerjaan-pekerjaan besar. Pekerjaan-pekerjaan besar yang sering lahir dalam keadaan sendiri. Ia tak peduli dengan sikap yang akan diberikan orang lain kepadanya. Pahlawan adalah keberanian dan kepahlawanannya tidak disuplai oleh orang lain. Pahlawan adalah seorang yang tak banyak waktu untuk bermain dan tertawa. Pahlawan adalah orang-orang yang serius untuk bekerja.
Adapun ciri-ciri kepahlawanan adalah kemauan untuk meningkatkan kemampuan diri, speed of learning, kecepatan pembelajaran, memiliki kesabaran, ketekunan, kekuatan mental. Kepahlawan bukanlah ditujukan untuk orang-orang luar biasa, tetapi orang-orang biasa yang mengerjakan pekerjaan luar biasa. Alasan tak punya apa-apa untuk menjadi pahlawan adalah tak penting sebab bukan apakah kita punya apa-apa, tapi apakah kita memiliki sesuatu dan yang terpenting adalah semangat untuk menjadi sesuatu, untuk memberikan sesuatu dari nyawa, harta, dll. Memberi sesuatu yang bermanfaat dari diri kita artinya memiliki yang lebih banyak. Caranya yaitu merekonstruksi kembali pemikiran-pemikiran kita.

Selamat Hari Pahlwan Kawan ……..,

Berikut Saya kutipkan beberapa tulisan dari Buku :

Mencari Pahlawan Indonesia

Mencari Pahlawan Indonesia

Para pahlawan mukmin sejati harus ekstra hati-ati dengan kepahlawanannya
sendiri. Mereka harus membiasakan diri untuk mencurigai diri mereka sendiri;
sebab jauh lebih penting dari sekadar menjadi pahlawan adalah
memastikan bahwa karya-karya kepahlawanan kita diterima di sisi Allah
SWT, sebagai pahala yang akan mengantar kita meraih ridha-Nya dan masuk ke
surga-Nya.
Manusia hanyalah user atau penikmat dari karya-karya kepahlawanan kita. Mereka sarna sekali tidak mempunyai otoritas untuk menentukan, apakah karya itu diterima atau ditolak di sisi Allah SWT. Syarat penerimaan itu ditentukan sendiri oleh Allah SWT; niat yang ikhlas untuk Allah SWT dan cara kerja yang sesuai sunnah Nabi.
Para pahlawan mukmin sejati menyadari sedalam-dalamnya untuk siapa
sebenamya ia bekerja. Mereka menyadari adanya ancaman kesia-siaan; kerja
keras di dunia yang kemudian ditolak di akhirat, seperti firman Allah SWT, “Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka). ” (Al-Gha-syiyah: 2-4)
Dalam perjalanan ke Palestina setelah pembebasan Al-Quds, Umar Bin Khattab
berhenti sejenak menyaksikan seorang pendeta yang sedang khusyuk beribadah.
Tapi kemudian beliau menangis tersedu-sedu, sembari membaca ayat di atas,
“Bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka).”
Gemuruh lepuk tangan pengagum, sanjungan mematikan para pengikut, dukungan
obyeklif para pengamat, atau bahkan tembakan salvo pada hari penguburan
adalah objek yang harus dicurigai para pahlawan; sebab merasa menjadi
pahlawan bisa merusak niat mereka. Demikian juga dengan cara kita
menuntaskan karya kepahlawanan kita; pembenaran orang lain tidak akan berguna di mata Allah SWT kalau temyata pekerjaan itu memang salah menurut sunnah.
Para pahlawan mukmin sejati adalah pekerja keras yang menunaikan janji
kepahlawanannya dalam diam dan menyelesaikan karya-karyanya dengan
semangat kebenaran sejati. Mereka jujur kepada Allah SWT, kepada diri sendiri
serta kepada sejarah. Mereka tidak tertarik dengan hingar-bingar pengakuan
publik, atau sorotan kamera, sebab itu bukan tujuannya, sebab itu bukan
kebanggaannya.
Di hadapan ancaman kesia-siaan itu, mereka menemukan kekuatan untuk
mengasah kejujuran batinnya secara terus menerus, mengoreksi
pekerjaan-pekerjaannya secara berkesinambungan; sebab dengan begitulah
mereka mempertahankan keikhlasan dan kerendahan hati di depan Allah SWT,
mematikan luapan kebanggaan setelah prestasi-prestasi besarnya, sembari berdoa
di antara deru kecemasan dan harapan agar Allah SWT berkenan menerima
mereka sebagai pahiawan-pahlawan-Nya.
Para pahlawan mukmin selalu mengenang saat-saat yang paling mengharu-biru
dari kehidupan Umar Bin Abdul Aziz; beberapa saat menjelang hembusan nafasnya yang terakhir, pahlawan besar itu membaca firman Allah SWT, “Dan inilah negeri akhirat, yang Kami sediakan untuk orang-orang yang tidak menginginkan keangkuhan di muka bumi, juga tidak menginginkan kerusakan.” (Al-Qashash: 83).

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: