Partisipasi Politik dalam Gelombang Demokratisasi


Menuju gelombang demokratisasi ketiga – mengutip istilah Samuel P. Huntington, perubahan paradigma politik (politic paradgm) di masyarakat menjadi suatu keniscayaan. Gelombang demokratisasi ketiga menekankan bahwa dalam negara yang sedang membangun demokrasi, peran masyarakat sebagai stake holder tidak bisa diabaikan.

Rakyat Menuntut

Rakyat Menuntut

Pengabaian peran masyarakat justru mengabaikan demokrasi itu sendiri dengan segala derivasi maknanya. Peran yang dimaksud dalam hal ini tentu tidak akan terwujud tatkala masyarakat tidak memiliki kebebasan dan kecukupan pengetahuan tentang hakekat demokrasi. Maka, konsekuensi dari semua ini adalah bahwa masyarakat yang cerdas politik justru menjadi suatu persoalan yang fundamental dalam proses membangun demokratisasi. Cerdas politik sangat erat kaitannya dengan pendidikan dan partispasi politik. Pertanyaan mendasar dalam konteks ini adalah apakah pendidikan dan partispasi politik sudah berlangsung saat ini ? di negara-negara demokrastis pemikiran yang mendasari konsep partisipasi politik ialah bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat, yang melaksanakannya melalui kegiatan bersama untuk menetapkan tujuan-tujuan serta masa depan masyarakat itu dan untuk menentukan orang-orang yang akan memegang tampuk pimpinan untuk masa berikutnya. Jadi partisipasi politik merupakan suatu pengejawantahan dari penyelenggaraan kekuasaan politik yang absah oleh rakyat.

Partisipasi politik sebagai dikatakan oleh Herbert McClosky (1972) merupakan kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui mana mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa, dan secara langsung atau tidak langsung, dalam proses pembentukan kebijakan umum. Dalam konteks ini ada dua point penting yang harus di cermati; sukarela dan ambil bagian. Sukarela berarti masyarakat secara sadar dari hati nuraninya tanpa ada paksaan dan intimidasi dari pihak manapun untuk melakukan sesuatu. Sedangkan ambil bagian berarti ikut andil dengan segala kesadarannya untuk memberikan kontribusi bagi suatu proses yang berlangsung. Gabungan dari kedua hal inilah suatu masyarakat dapat dikatakan sebagai masyarakat yang cerdas politik.

Dalam konteks kekinian terutama melihat realitas masyarakat Indonesia, secara sengaja atau tidak bahwa kedua point diatas sulit untuk dapat digabungkan menjadi suatu yang di sebut cerdas politik. Diakui bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia hanya memiliki satu poin kalau tidak dikatakan tidak punya keduanya. Ada masyarakat yang punya kesukarelaan namun tidak punya andil dalam politik. Sementara yang lain memiliki andil dalam politik namun tidak memiliki kesukarelaan. Sebagian kecil yang lain ada yang tidak memiliki kedua-duanya.

Realitas ini menunjukkan bahwa peran-peran pendidikan politik masyarakat tidak mendapatkan porsi yang seimbang ditengah-tengah kehidupan demokrasi. Tentu juga sangat tidak arif menyalahkan lemahnya partisipasi masyarakat terhadap politik, yang berujung pada ketidakcerdasan dalam memainkan peran politik. Tetapi yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa ternyata realitas partai politik dan politisinya justru memanfaatkan situasi dan kondisi ini untuk melakukan ekploitasi politik demi kepentingan mereka. Karena bagi mereka ketika masyarakat ‘melek’ politik, maka tentu mereka kehilangan konstituennya.

 

Partai Politik harus mengambil Peran Sentral

Partai Politik harus mengambil Peran Sentral

Peran partai politik sebagai media pencerdasan politik masyarakat – minimal konstituennya – adalah suatu hal yang mutlak dalam kondisi bangsa yang sedang membangun demokrasi. Peran ini begitu pentingnya demi membangun bangsa menuju kemapanan demokrasi yang di cita-citakan.

Menuju masyarakat cerdas politik adalah suatu visi besar yang harus diwujudkan oleh semua entitas negeri ini, terutama partai politik yang ada. Bagaimanapun juga tanggung jawab ini mesti diperan secara seimbang, agar tidak terjadi kesenjangan partisipasi politik masyarakat dengan pendidikan politik yang mereka dapatkan. Partisipasi politik yang diinginkan sesungguhnya adalah partisipasi politik sehat, dalam pengertian bahwa masyarakat memainkan peran politiknya dan menyalurkan aspirasi politik mereka berdasarkan suatu pemahaman yang jelas dan tegas tentang peran politik mereka dalam pembangunan bangsa.

Untuk menunjukkan bahwa visi tentang bangsa yang lebih baik kedepan adalah suatu keniscayaan ketimbang kepentingan pragmatisme elite politik, diperlukan suatu kedewasaan sekaligus kematangan individu dan kolektif dalam menatap masa depan bangsa yang lebih baik. Kesadaran ini akan lahir tatkala para elite politik berhenti melakukan sandiwara-sandiwara politik, lelucon-lelucon murahan yang selama ini mereka lakonkan yang justru sangat kontraproduktif dengan cita-cita demokrasi.

Para politisi dan pemain politik sudah saatnya harus menanggalkan ‘baju’ kelompok dan golongan mereka dalam tataran yang lebih makro, mereka harus secara dewasa menghapus kemunafikan yang mereka tampilkan di hadapan pubik, secara jujur mereka harus mengatakan bahwa porak porandanya negeri ini disebabkan oleh kebohongan-kebohongan yang mereka lakukan. Mereka seharusnya mampu berbuat yang terbaik demi kepentingan bangsa dan negara, bukan malah memanfaatkan bangsa demi kepentingan kelompok dan pribadi. Kejujuran dalam mengakui semua realitas adalah suatu yang sulit bagi elite bangsa ini. Mereka sangat senang menampilkan topeng ‘kemanusiaan’ mereka untuk menutupi wajah kemunafikan mereka yang sebenarnya. Dalam konteks ini peran pendidikan politik terabaikan.

Akhirnya yang lahir adalah apatisme politik masyarakat terhadap politik dan politisinya. Apatisme politik kemudian berujung pada lemahnya tingkat partisipasi politik masyarakat yang selanjutnya menyebabkan terhambat proses demokratisasi yang sedang di bangun. Tidak aneh kalau hari ini masyarakat sudah sangat phobi dengan partai politik dan para politisinya. Mereka menganggap bahwa semua partai politik sama saja, partai politik itu hadir hanya untuk menghancuran negeri ini. Mereka tidak lagi mempercayai para politisi yang ada karena semua mereka sama saja, hanya menonjolkan nafsu egoisme dan keserakahan. Semuanya sangat tidak aneh, yang aneh justru ditengah situasi seperti ini para politisi sibuk mendirikan partai politik masing-masing.

Kegagalan pendidikan politik masyarakat hakekatnya mencerminkan kegagalan proses demokratisasi suatu bangsa. Bangsa yang besar sesungguhnya adalah bangsa yang memiliki tingkat partisipasi politik yang tinggi di masyarakatnya. Oleh karenannya, sudah saatnya para elite politik di negeri ini untuk secara sadar menyikapi situasi ketidakberdayaan ini dengan arif dan bijaksana berbuat yang terbaik demi bangsa, demi masyarakat, demi suatu cita-cita terwujudnya demokrasi yang sehat yang ditandai tingginya tingkat partisipasi politik masyarakat dengan secara sadar memberikan kontribusi dan andil dalam membangun bangsa. Seandainya semuanya tidak segera diwujudkan oleh semua pihak, kegagalan akan kembali kita nikmati, keterpurukan bangsa akan kembali mejadi dilema, dan yang jelas cita-cita reformasi, terwujudnya Indonesia baru yang beradab, demokratis dan berkeadilan akan semakin terkubur.

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: