Tantangan Sekolah Islam Terpadu (SIT)


Fakta yang cukup mengejutkan adalah maraknya pertumbuhan Sekolah berbasis agama di dunia. Beberapa ahli berpendapat bahwa ini merupakan gerakan perlawanan dari masyarakat atau titik balik terhadap paham materialisme yang telah mencapai puncaknya sehingga seluruh dunia seolah telah berada dalam genggamannya. Paham ini membonceng pada modernisasi dan melahirkan ‘anak’ pahamnya seperti hedonisme, pornografi, konsumerisme, kultur MTV, dll. Yang disebut oleh Benjamin Barber, seorang ilmuwan politik sebagai ‘The McWorld’. Masyarakat yang mengagungkan nilai-nilai keagamaan, maupun masyarakat di negara-negara maju yang telah muak dengan ekses paham materialisme

Di berbagaikotadi tanah air bermunculan dengan pesatnya sekolah berbasis keagamaan, baik itu Islam ataupun Nasrani (Kristen, Katholik, maupun Advent). Boleh dikata 80% sekolah-sekolah swasta yang baru dibuka adalah sekolah berbasis keagamaan, baik itu di kompleks-kompleks perumahan mewah maupun di daerah-daerah. Sekolah-sekolah dengan label SDIT/SMPIT (Sekolah Dasar/Menengah Islam Trpadu) marak didirikan dimana-mana. Sekolah-sekolah berbasis agama Nasrani juga tidak kurang gencarnya dibuka dimana-mana. Saat ini hampir di semua kompleks perumahan atau properti besar berdiri sekolah-sekolah Nasrani. TPA-TPA (Taman Pengajian AlQur’an) dan Sekolah-sekolah Minggu semakin marak. Bahkan sekolah-sekolah negeri dan swasta umum juga mulai menekankan pentingnya peran agama dalam kurikulum mereka. Beberapa sekolah umum mengganti pakaian seragamnya dengan pakaian seragam yang bernuansa agamis seperti rok panjang dan jilbab bagi para siswinya. Di negara-negara maju pun (Australia,Inggris,USA) sekolah berbasis keagamaan tumbuh subur dan semakin banyak peminatnya. Zaman terus berputar dan peluang sekolah berbasis agama semakin besar serta mendapatkan gilirannya untuk berperan dalam dunia pendidikan.
Titik focus dalam tulisan singkat ini adalah Keberadaan Sekolah Islam Terpadu (SIT) dan tantangan ke depan di tengah peluang yang semakin membesar. Tulisan inipuan berbasis analisa di SIT Qurrata’ayun Kandangan, HSS dan SIT Al Khair, Barabai, HST, Kalimantan Selatan.

SIT Al Khair, Barabai, HST  merupakan sekolah yang berada di bawah Yayasan Al Futuwwah, Barabai dan sudah bergerak di dunia pendidikan sekitar tahun 1997, dan meliputi Kelompok Bermain Islam Terpadu (KBIT), Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (TKIT), Sekolah Dasar Islam Teroadu (SDIT) dan Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT)

Sedangkan SIT Qurrata’ayun Kandangan, HSS dimulai sekitar tahun 2001, dan sekarang mempunyai Kelompok Bermain Islam Terpadu (KBIT), Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (TKIT), dan Sekolah Dasar Islam Teroadu (SDIT). SIT Qurrata’ayun Kandangan, HSS berada di bawah Yayasan Al Futuwwah, Kandangan

Manasik Haji SIT Qurrata'Ayun, Kandangan

Manasik Haji SIT Qurrata'Ayun, Kandangan

Pada dasarnya Sekolah Islam Terpadu merupakan sekolah yang menerapkan kurikulum pendidikan umum dan pendidikan agama menjadi satu. Sekolah Islam Terpadu di Indonesia berkembang dengan pesat, SIT sekarang mempunyai forum bersama dengan nama Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) dan anggota JSIT sekarang seluruh Indonesia Paud / TKIT : 571,  SDIT 424,  SMPIT 109, dan SMAIT 21. Data ini penulis dapat dari Website resmi JSIT. Perkembangan secara kuantitas dan penyebaran ini cukup lumayan cepat untuk sebuah lembaga pendidikan. Bahkan menurut sumber lain pertumbuhan di tingkat nasional sendiri mencapai 87 sekolah tiap tahunnya. Dihitung sejak 1998 hingga 2010, ada 1.125 sekolah Islam terpadu sekarang

Dalam perkembangannya, menurut penulis ada beberapa tantangan yang harus dijawab  SIT. Tantangan ini lebih khusus penulis lihat di SIT Qurrata’ayun, Kandangan dan SIT Al Khair, Barabai. Selaku orang luar, yang tidak terlibat langsung dalam SIT dan juga Yayasan, penulis harapkan tulisan ini bisa mewakili suara dan harapan eksternal dan akan lebih objektif ulasannya. Tantangan-tantangan itu antara lain :

Pertama : SIT kalo mau dianalogikan dalam dunia bisnis, maka ia mirip dengan konsep Franchise /  Waralaba. Dimana sebuah Franchise /  Waralaba memiliki stardar kualitas yang sama, missal : Ayam Bakar Wong Solo, dimanapun  warungnya berada baik di Jawa atau diKalimantan maka rasa dan juga standar mutu adalah sama. Begitupula dengan SIT, tentunya JSIT selaku pengontrol standar mutu ini memiliki ukuran-ukuran yang sangat jelas. Dan mungkin inilah menurut penulis yang menjadi tantangan terbesar bagi JSIT dan SIT seluruhIndonesia. Dengan percepatan penyebaran secara kuantitas maka akan sangat memungkinkan mengorbankan kualitas, walaupun keinginan adalah big quantity dan best quality.

Salah satu filosofi SIT lahir adalah untuk menjalankan dakwah berbasis pendidikan, dalam perjalanan waktu d engan berbagai keunikan, inovasi dan kreativitas di masing-masing sekolah, kondisi yang beragam secara ekstrim-mulai dari sekolah yang bersiswa High Class sampai yang bayaran pun masih harus dibantu alias gratis plus plus. Manajemen sekolah yang berbeda sekuen dengan berbedanya pula idealisme para founder di masing-masing sekolah, serta hal lainnya. Tentunya semuanya menjadi tantangan untuk tetap menjaga standar kualitas yang seharusnya. Selaku orang tua biasanya mereka menilai dengan hafalan Al Quran, Hadits, Doa, yang dihapal anak, yang memang merupakan nilai plus dari SIT, begitupula sisi-sisi akhlaknya. SIT selaku lembaga pendidikan yang berorientasi dakwah menurut penulis sudah memberikan dampak yang luar biasa dalam pendidikan islami di tengah masyarakat, ini terbbukti dengan besarnya animo masyarakat terhadap SIT, tentunya tantangan pertama ini harus dijawab dengan keseriusan yang luar biasa sehingga dari SIT lah akan lahir sebuah benih baru dari generasi peradaban Islam.

Kedua : Tantangan SDM, menurut penulis SDM di SIT akan menjadi tantangan besar selanjutnya bagaimana SIT dan Yayasan yang menaunginya bisa memberikan SDM terbaik bagi anak-anak murid SIT. Mulai dari Kepala Sekolah, Dewan Guru dan lain-lainnya haruslah memberikan yang terbaik dan terus memacu diri untuk peningkatan skill sehingga dapat menjawab tantangan zaman yang luar biasa besarnya. Menurut penulis SDM lah yang akan menentukan bagaimana jalannya proses pendidikan di sekolah, dan proses merupakan inti dari semuanya. Walaupun ada pula yang berpikir bahwa the best input maka akan the best out put, masuk akal saja, tapi dalam kenyataannya dan dalam dunia pendidikan serta dakwah  konsep ini tidaklah ideal, karena yagn ideal adalah the best process maka akan the best out put. Inilah inti tantangannya, bagaimana SIT bisa melakukan the best process, yang menurut penulis akan berujung pada SDM tadi.

Padahal  dalam  tatanan teknis soal SDM ini juga menjadi permasalahan yang lain seperti banyaknya Guru yang ingin menjadi PNS, sehingga sering terjadi guru yang mengajukan pengunduran diri karena ingin/jadi PNS,. Begitupula dengan masalah honor, ini juga merupakan tantangan lain dari masalah SDM, bagaimana SIT dan Yayasan dapat memberikan honor yang sepadan dan layak.

the best process maka akan the best out put, InsyaAllah

Ketiga : Fasilitas (saranan dan prasarana) pendidikan : gedung, kelas, lab, mushalla, tempat makan, alat bantu belajar, buku dll. Ini akan menjadi masalah tahunan bagi SIT setiap tahun harus ada fasilitas baru, karena itulah tuntutannya, semakin banyak murid yang mendaftar semakin tinggi animo masyarakat semakin banyak pula fasilitas yang harus disiapkan. Dan tentunya ini menjadi masalah financial,  yang akan menuntut keberanian dan kretifitas SIT / Yayasan  dalam mencari dana.

Tulisan ini ditulis dalam waktu singkat di tengah waktu senggang, jadi harap maklum klo ada penulisan yang salah.

Maju Pendidikan Islam


About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: