Efek Bola Salju Revolusi Arab (Kembalinya Kekuatan Islam Politik)


Revolusi Arab

Olivier Roy dalam bukunya Lechec de I’Islam politique, yang dalam edisi Indonesia dikasih judul Gagalnya Islam Politik,

menggambarkan bahwa aktifis-aktifis Islam yang berorientasi politik  (Islam Politik) telah gagal menawarkan model masyarakat baru maupun masa depan yang lebih cerah. Kemenangan politik kaum Islamis di negeri muslim hanya membawa berbagai perubahan superficial di bidang hokum dan adat istiadat. Islamisme belakangan berubah menjadi tipe neofundamentalisme yang hanya peduli pada penegakan syari’at, tanpa menciptakan bentuk-bentuk politik baru. Perekonomian Islam yang mereka gagas hanyalah retorika belaka, yang akhirnya terjadi adalah, realitas sosio ekonomi yang menopang gelombang Islamisme tetap berjalan ditempat dan tidak kunjung berubah;  kemiskinan, alienasi, krisis nilai dan identitas, kemorosotan system pendidikan, pertentangan Utara-Selatan, masalah integrasi kaum imigran ke dalam masyarakat pribumi, dan seterusnya.

Isi buku ini sudah mulai terbantahkan sedikit demi sedikit. Kembalinya kekuatan politik Islam mulai terlihat dengan berkembangnya kekuatan politik umat Islam di berbagai Negara, baik di Asia, Erofa dan juga Afrika.  Kekuatan politik umat Islam di akhir abad 20 ini dimulai dengan menangnya Partai Keadilan dan Pembangunan di Turki dan dengan melejitnya pamor tokoh partainya yang juga Perdana Menteri Turki, Erdogan dan kemenangan Hammas di Palestina. Dan puncak dari arus kebangkitan politik Islam ini adalah ketika adanya gelombang revolusi Arab yang membawa kemenangan bagi Partai An Nahdhah di Tunisia, Partai Kebebasan dan Keadilah  di Mesir dan Partai Keadilan dan Pembangunan di Maroko. Dan tentunya perjuangan politik Islam tidak berakhir hanya di sini, karena ini barulah permulaan. Islam politik harus bias menjawab tantangan dan mampu memberikan kemaslahatan serta solusi permaslahan umat secara luas.

Sejak meletusnya revolusi di Tunisia, mata penduduk dunia tertuju ke kawasan bergejolak Timur Tengah. Berbagai pihak menanti perkembangan apa yang akan terjadi selanjutnya. Gerbong kereta revolusiArab  yang juga dikenal Barat sebagai fase Kebangkitan Islam ini, telah memaksa para pemimpin diktator Arab turun dari tampuk kekuasaannya. Tunisia mengawalinya dengan ‘kaburnya’ penguasa negeri itu, Ben Ali ke Arab Saudi, yang dilanjutkan revolusi serupa di Mesir, Libya, Suriah dan Yaman.

Tunisia sebagai negara pencetus Revolusi di Arab menjadi percontohan bagi negara-negara yang mengikuti jejaknya. Setelah berjuang selama 9 bulan paska kematian si pedagang sayur sekaligus simbol Revolusi, Muhammad Bouazizi, 18 Desember 2010, rakyat Tunisia akhirnya kini dapat merasakan arti dari sebuah kemerdekaan yang hakiki. Negeri ini pun menjadi tolak ukur, sudah sejauh mana keberhasilan revolusi di tanah Arab saat ini, apakah memberikan dampak yang positif, atau justru sebaliknya?

Paling tidak, hasil dari pemilu Dewan Konstitusi di Tunisia yang diadakan pada hari Ahad, (23/10) lalu menjawab pertanyaan sekaligus kekhawatiran itu. Pemilu bersejarah yang diikuti 90% peserta pemilu ini mendapat banyak sanjungan dari berbagai pengamat baik dari dalam maupun luar Tunisia, mereka sepakat menyatakan bahwa pemilu berlangsung jujur dan adil.

Keberhasilan partai Islam di Tunisia didahului dengan kemenangan Libya dengan tertangkapnya diktator di negeri itu Kol. Muammar Qadhafi. Namun sayangnya penangkapan Qadhafi berujung dengan penembakan misterius yang menyebabkan ia mati dalam operasi penangkapan, Kamis (20/10). Dengan berakhirnya Qadhafi lenyap pula pengaruh kekuasaannya dari tanah Libya. Rakyat pun bersukacita dan mendeklarasikan kemenangan negerinya paska revolusi.

Pimpinan Oposisi Libya, Musthofa Abdul Jalil dalam acara pendeklarasian kemenangan Libya setelah 42 tahun dipimpin oleh diktator Kol. Muammar Qadhafi di kota Benghazi mengawali pidatonya dengan melakukan sujud syukur di panggung acara, sebagai bukti kemenangan dan rasa syukur kepada Allah Swt..Ahad (23/10).

Yang menarik dari isi pidato Abdul Jalil kala itu adalah, pondasi dasar dari hukum yang akan diterapkan Libya nantinya haruslah berdasarkan Syariat Islam. “Kita selaku bangsa Libya, sebagai negara Islam, telah menjadikan Syariat Islam sebagai sumber utama dalam penetapan hukum negara, dengan demikian, UU mana pun nantinya yang bertentangan dengan Syariat Islam maka keabsahannya ditolak.

Kebangkitan Islam dan Pengaruhnya

Abad 15 H adalah abad kebangkitan Islam. Riak-riak kebangkitan ini dari hari ke hari kian terasa. Bagi mereka yang bergerak bersama denyut nadi umat pasti merasakannya. Karena itulah mereka terus bergerak dengan semangat yang tak pernah padam.

Gerakan kebangkitan Islam telah menyebar ke Barat dan Timur, cahayanya menyebar ke  negari-negeri Islam dan terus merambah ke seluruh dunia menebar hidayah. Kebangkitan Islam menggugah kesadaran akal, memenuhi hati dengan keimanan dan semangat untuk beramal. Kebangkitan Islam juga menunjukkan dirinya dalam kancah pemikiran; perbaikan suluk; kebangkitan ekonomi dan politik; juga dalam medan jihad.

Umat Islam memiliki kekuatan iman dan kekuatan manhaj. Hal ini diperkuat Paul Schmidt dalam bukunya Islam Kekuatan Masa Depan yang menyebutkan bahwa ada tiga pilar kekuatan umat Islam, yakni (1) Kekuatan Islam sebagai agama, (2) Tersedianya sumber-sumber kekayaan alam, (3) Suburnya keturunan pada umat Islam. Menurutnya jika tiga pilar ini kokoh dan umat Islam bersatu diatasnya, maka bahya laten Islam merupakan ancaman akan punahnya Eropa dan bangkitnya Islam menjadi pemimpin dunia.

Tidtak ada alasan lagi bagi kita untuk pesimis menatap masa depan yang cemerlang. Al-Mustaqbal li haadzad diin, masa depan adalah milik Islam, demikian kata Sayyid Qutb

Dan kita tunggu Akankah efek bola salju ini akan sampai ke Asia, khususnya ke Indonesia

Wallahu’alam.

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: