Banjir di Banua Kita


Musim hujan sudah mulai pada puncak-puncaknya, pada tahun ini diperkirakan puncak hujan pada akhir desember 2011 sampai januari 2012. Banjir di Kalimantan Selatan merupakan hal rutin yang kayaknya wajib dirasakan masyarakat setiap tahunnya, banyak faktor yang bisa mendorong terjadinya banjir ini, antara lain :

  1. Faktor hujan yang lebat atau iklim yang ektrem seperti yang terjadi sekarang ini,

Jika kondisi iklim ekstrim ini terjadi, sedangkan kondisi daya dukung  DAS sangat jelek, maka berdampak terhadap terjadinya banjir. DAS yang berdaya dukung rendah ditandai dengan perubahan tata guna lahan dari daerah tangkapan hujan dengan koeffisien aliran permukaan (koefisien  runoff  rendah berubah menjadi tanah terbuka dengan koeffisien  runoff  tinggi (sebagian besar air hujan menjadi aliran permukaan).

2. Menurunnya resistensi DAS (Daerah Aliran Sungai)  terhadap banjir akibat perubahan tata guna lahan

3. Faktor kesalahan pembangunan alur sungai, seperti; pelurusan sungai, pembetonan dinding dan pengerasan tampang sungai

4. Faktor pendangkalan sungai, termasuk faktor penting pada kejadian banjir, karena menyebabkan pengecilan tampang sungai,     sehingga tidak mampu lagi mengalirkan air yang melewatinya dan meluap (banjir).

Faktor pendangkalan sungai merupakan  salah satu faktor yang menyebabkan  terjadinya banjir. Pendangkalan sungai berarti terjadinya pengecilan tampang sungai, hingga sungai tidak mampun lagi mengalirkan air yang melewatinya, sehingga meluap dan terjadilah banjir. Pendangkalan sungai ini dapat disebabkan oleh sedementasi yang terjadi terus menerus, akibat erosi yang intensif dibagian hulu. Erosi tersebut, selain akibat rusaknya DAS pada bagian hulu karena hutan yang mengalami degradasi, juga adanya pelurusan sungai dan. sudetan, sehingga peningkatan erosi pada bagian hulu

5.   Pembalakan Hutan dan Lahan Kritis.

Penyebab terjadinya lahan kritis disebabkan oleh faktor, Perladangan berpindah-pindah   disertai dengan penebangan dan pembakaran hutan, Praktik sistem pertanian yang tidak memperhatikan konsep dan usaha pengawetan(konservasi) tanah  dan Penggembalaan liar dan kebakaran hutan.

6. Alih Fungsi Lahan untuk Perkebunan.

Hingga kini alih fungsi lahan semakin  marak di Kalimantan Selatan, baik untuk kegiatan perkebunan untuk pengembangan kelapa sawit maupun pembukaan areal pertambangan batubara. Menurut Dinas Perkebunan total lahan yang tersedia untuk lahan kelapa sawit mencapai 200.000 – 400.000 ha, baik lahan basah atau kering dan yang sekarang sudah tergarap seluas 173.000 ha (B.Post, 2006b).

7.  Pembukaan Area Tambang Batubara

Semakin maraknya pembukaan lahan untuk tambang batubara di Kalimantan Selatan, tentunya berdampak luas terutama terhadap lingkungan. Hingga saat ini ada 229 kuasa pertambangan (KP) yang mengeksploitasi  87.411 ha Hutan Lindung Meratus.  Data Dinas Kehutanan mencatat ada 6 kabupaten di Kal-Sel yang hutan lindungnya telah dikapling oleh pertambangan.

Solusi Alternatif Yang Ditawarkan

  1. Mengurangi dilakukannya eksploitasi hutan
  2. Tindakan yang tegas terhadap pembukaan area untuk kegiatan apapun di kawasan  hutan lindung
  3. Melakukan penghijauan yang intensif pada  kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan yang teridentifikasi sebagai lahan kritis
  4. Perluasan perkebunan kelapa sawit yang terkendali dan berwawasan lingkungan.
  5. Mengambil tindakan yang tegas terhadap  perusahaan tambang batubara yang  mengabaikan reklamasi dan revegetasi
  6. Tidak memberikan perijinan kuasa penambangan batubara yang baru
  7. Harus ada sanksi tegas bagi masyarakat yang membuang sampah di sungai-sungai
  8. Melakukan kampanye besar-besaran pelestarian lingkungan
  9. Penyebaran  leaflet himbauan untuk tidak membakar hutan dan lahan, serta pelestarian hutan tropis dan  Penyebaran VCD dampak kerusakan lingkungan terhadap manusia dan lingkungannya.

Mudah-mudahan banua kita di pahuluan, khususnya Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah dapat memberikan contoh bahwa kita dapat menanggulangi Banjir dengan baik, adanya pencegahan yang dilaksanakan jauh-jauh hari, kesadaran yang tinggi terhadap lingkungan, kesiap siagaan pemerintah bersama masyarakat terhadap bencana , InsyaAllah menjadi modal pokok demi penaggulangan banjir, apalgi khususnya di HSS nanti dengan beroperasinya Bendungan Amandit akan banyak berpengaruh terhadap curahan air di sungai Amandit dan akan mengurangi Banjir di Kota Kandangan karena luapan air sungai.

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: