Perjalanan Pemikiran Politik Islam


Agar bisa melihat lebih jelas dan bijak, kadang kita perlu mendengarkan pendapat oralng lain tentang kita. Melihat dari sudut pandang yang tak pernah kita duga, persfektif yang yang lain dan jauh berbeda, sehingga fakta dan objektifitas akan semakin teruji.

Salah satunya yang patut kita lihat adalah salah satu tulisan Antony Black dalam bukunya yang berjudul Pemikiran Politik Islam, Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini (Versi Indonesia) dengan total halaman sebanyak 698 halaman. Antony Black merupakan guru besar dalam bidang sejarah pemikiran politik di jurusan ilmu politik, University of Dundee.

Tentunya tulisan ini tidak bisa kita telan secara bulat-bulat, namun juga tidak bijak kalau kita tolak dan muntahkan secara total., berikut sekelumit petikan singkat tulisannya :

—————————————————-

Sejarah pemikiran politik Islam memperlihatkan kepada kita sebuah tradisi intelektual yang unik . Yang pertama terlihat adalah hubungan agama dan politik , Islam muncul sebagai sebuah agama yang bertekad untuk menundukkan dan mengubah dunia. Politik dan Negara dimasukkan dalam misinya.

Akan tetapi, sekitar tahun 850 M banyak hal yang berubah, kekuasaan dibagi antara seorang sultan dan ulama. Sultan yang mengatur urusan militer, menegakkan hokum dan ketertiban , sedangkan ulama yang mengatur urusan social, keluarga dan perdagangan. Proyek politik-keagamaan Nabi dan para imam terdahulu digantikan, di kalangan sunni dan syi’ah imamiyyah  dengan kepasifan  politik. Dalam hal ini Islam bergerak kea rah yang berlawanan dengan Kristen, yang mana pada awalnya menentang partisipasi politik , tetapi kemudian berpolitik pada periode akhir Romawi dan seterusnya. Pelepasan urusan politik dari agaman paling mencolok terjadi di bawah Dunasti Utsmani. Akan tetapi aspek militer Islam tidak pernah hilang dari perjalanan

Ada hubungan khusus antara ilmu dan kekuasaan di dunia Islam sebagaimana juga terjadi di dunia Kristen. Teladan Nabi dan Khalifah menyatukan ilmu dengan kekuasaan. Kedudukan ilmu yang pada akhirnya mendapat legitimasisatu-satunya di dunia Islam semakin memperkuat otoritas social para ulama, karena hanya mereka yang dpat mengklaim sebagai pemilik pengetahuan yang benar. Ulama, seperti para pendeta Kristen abad pertengahan, dapat mengeluarkan ketetapan akhir tentang apa yang harus dilakukan. Di dunia Kristen abad pertengahan ilmu (scientia, artinya kebenaran wahyu) pernah diasosiasikan dengan jabatan-jabatan yang diberkati oleh Kristus diwakili oleh para uskup dan gereja Roma. Kekuasaan yang diberikan oleh ilmu kepada para ulama adalah lebih luas dan lebih implicit ketimbang kekuasaan pendeta Kristen di Eropa, namun terbukti jauh lebih abadi.

Banyak sekali pemikir orisinal yang produktif antara 800 dan 1100, suatu masa ketika pemikiran dan kultur politik Islam tanpak lebih menjajnjikan ketimbang pemikiran dan kultur politik barat. Gagasan tentang lingkungan kekuasaan mengesankan satu pemahaman yang canggih tentang masyarakat politik.

Namun demikian, segala sesuatu mandeg, pemikiran politik dalam banyak hal tidak berubah sejak abad ke 11. Pemikiran politik keagamaan menjadi tertutup rapat, fakta atau pengalaman baru tidak boleh dimasukkan ke dalam satu system yang dianggap telah sempurna dan telah meliputi segalanya. Maka genre fikih dan nasehat kepada raja tetap tidak berubah, berbagai ungkapan yang sama dikatakan berkali-kali hingga abad ke-20 oleh sejumlah pemikir.

Isu utama dewasa ini adalah hubungan Islam dengan demokrasi liberal dan tatanan  internasional. Banyak muslim yang berpikir bahwa implementasi keadilan, termasuk aturan-aturan syari’at yang spesifik sebagai program yang lebih penting. Mungkin banyak juga kalangan Kristen dan Marxis yang berpandangan sama, menggantikan aturan-aturan tertentu dengan aturan Alkitab, atau hak-hak social dan ekonomi,

Prinsip-prinsip kedaulatan rakyat ddan pemerintahan berdasarkan hokum didukung oleh mayoritas besar pemikir Islam, baik fundamentalis maupun modernis, namun hanya dalam pengertian yang sangat umum. Apa yang sebenarnya mereka maksudkan, dan bagaimana cara implementasi yang mereka inginkan, kerap kati tak terjelaskan. Inilah masalah utama dalam pemikiran politik Islam

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: