Bansau dan Illegal logging (Penebangan Liar) di Pahuluan Kal Sel


Kemarin saya pergi ke Bansau untuk membeli kayu untuk keperluan pribadi. Bansau ini berada di Desa Mandingin, Barabai, Hulu Sungai

Salah satu gambaran Bansau

Salah satu gambaran Bansau

Tengah, Kalimantan Selatan, dari sinilah akhirnya ada sedikit info tentang usaha bansau ini dengan segala fenomenanya.

—————————————————

Bansau merupakan usaha tempat pemotongan kayu, Bansau merupakan bahasa Banjar (Kalimantan Selatan). Dulunya para pengusaha Bansau dan bahkan perusahaan kayu merupakan para saudagar di Kalimantan Selatan, mereka menjadi tokoh dan orang yang punya kendali besar di kalangan masyarakat. Dengan perkembangan usaha, yang akhirnya memunculkan pertambangan batubara di Kal Sel membuat posisi Pengusaha kayu/Bansau mulai tergeser, hal ini ditambah dengan ketegasan pemerintah terhadap tindakan penebangan liar / Illegal logging di kawasan hutan Kalimantan.

Illegal logging (penebangan liar), semua rakyat Indonesia telah sangat mengenal istilah ini. Setiap hari diperbincangkan, bahkan selalu menjadi topik yang sangat hangat ditengah berbagai permasalahan mendasar bangsa ini. Ada yang menyatakan bahwa illegal logging adalah sebuah kejahatan yang tak terkirakan. WALHI menyatakan bahwa setiap menitnya hutan Indonesia seluas 7,2 hektar musnah akibat destructive logging (penebangan yang merusak). Dephut menyatakan bahwa kerugian akibat pencurian kayu dan peredaran hasil hutan ilegal senilai 30,42 triliun rupiah per tahun, sementara CIFOR menyatakan bahwa Kalimantan Timur telah kehilangan 100 juta dolar setiap tahunnya akibat penebangan dan perdagangan kayu ilegal, belum termasuk nilai kehilangan keanekaragaman hayati dan fungsi hidrologis, serta nilai sosial dari bencana dan kehilangan sumber kehidupan akibat pengrusakan hutan.

Dunia internasional menyorot Indonesia yang hingga saat ini belum mampu menyelesaikan permasalahan illegal logging. Berbagai proyek kerjasama internasional pun digulirkan ke Indonesia, mulai dari mendorong kebijakan, penelitian hingga kampanye anti illegal logging. Bahkan Departemen Kehutanan pun telah meletakkan permasalahan illegal logging di dalam rencana kehutanan nasional sebagai sebuah isu penting yang harus segera dituntaskan.

Bansau dan Illegal logging (penebangan liar) memiliki hubungan terkait yang sangat erat. Bansau tak akan maju dengan pesat tanpa didukung dengan adanya pasokan kayu yang selalu ada dan dengan kualitas bagus serta menjadi kayu idola bagi masyarakat.

Pemerintahan pasca Reformasi terutama zaman SBY Illegal logging (penebangan liar) menjadi musuh besar dan selalu diburu aparat penegak hukum. Hasil dari penegakan hukum ini berefek pada menurunnya jumlah bansau dan sekaligus hilangnya usaha dan pekerjaan masyarakat, yang secara langsung meninggikan jumlah pengangguran. Efek jauhnya yang ikut timbul adalah tingginya tingkat kriminalitas. Fenomena ini bisa dilihat di daerah-daerah yang dulunya banyak berdiri Bansau di Kal Sel, salah satunya di Barabai dan Kandangan serta Nagara.

Di tengah kerasnya dunia usaha dan jepitan hukum, usaha bansau kecil-kecilan tetap saja berjalan dengan memproduksi kayu dari jenis pohon-pohon yang tidak terlarang, dari kawasan bebas penebangan. Kayu dari lanan, pohon kelapa, durian, dan pepohonan yang lain menjadi altenatif untuk pasokan di bansau

Karena itulah akhirnya sangat sulit bagi masyarakat Banjar (Kal Sel ) untuk mendapatkan kayu ulin, karuwing, dll. Namun bukan berarti kayu-kayu tersebut tidak tersedia di bansau, para pengusaha bansau antar sesama pengusaha memiliki persaingan sangat ketat, yang akhirnya menuntut mereka untuk memberikan barang yang terbaik dan dicari banyak masyarakat, hal ini menuntut para pengusaha untuk bisa bermain cantik “berkelit” dengan hukum dan kejar-kejaran dengan aparat serta beresiko tinggi dan mahal.

————————————————————

Pekerja Bansau lagi memotong kayu glondongan menjadi papan dengan ukuran tertentu dengan menggunakan mesin pemotong

Pekerja Bansau lagi memotong kayu glondongan menjadi papan dengan ukuran tertentu dengan menggunakan mesin pemotong

Dari penuturan pemilik bansau tempat saya membeli kayu, dia mengutarakan bahwa sudah sekitar 9 tahunan ia membuka usaha ini, dengan membeli mesin pemotong kayu sekitar 50 juta an dan dengan disertai modal awal untuk membeli kayu secara glondongan, maka mulai berjalanlah usaha bansaunya.

Di sekitar tempat bansaunya juga sudah berdiri bansau yang lain, sekarang sekitar ada 6 bansau yang berdiri, ada pemilik asli dari orang desa sana, Mandingin, ada juga yang merupakan pendatang dari luar Kabupaten HST, yaitu dari Nagara, Kab. HSS. Jalanan menuju bansau dimanapun bansau itu berada biasanya selalu rusak, akibat dari truk membawa kayu yang selalu lewat setiap harinya. Padahal jalan ini menuju tempat perumahan masyarkat bahkan dalam bentuk komplek, namun apalah kata, karena usaha ini tidak bisa tutup dan tidak bisa tidak harus ada kiriman kayu glondongan tiap harinya, dan banyak penghidupan masyarakat sekitar sana berpegang dari usaha bansau ini, mulai dari pekerja pencari kayu, pengangkat, pemotong, penjaga bansau, tukang antar kayu jualan dll. Akhirnya jalanan itu selalu rusak, karena dari pemerintah daerah (Dinas PU) tidak bisa mengaspal kalau tidak berhentinya dulu hilir mudik truk kayu minimal dalam jangka 4 bulan, hal ini juga berarti bansau tutup 4 bulan, dan 4 bulan juga penghasilan akan hilang. Jalan rusak akhirnya menjadi sebuah kepastian.

Pengusaha bansau juga dituntut untuk bisa bermain cantik “berkelit” dengan hukum khususnya masalah Illegal logging (penebangan liar), dan kejar-kejaran dengan aparat serta beresiko tinggi dan mahal. Ada pemilik bansau yang mengutarakan bahwa ia sudah berkali-kali ditangkap polisi dan dan masuk tahanan, dan bahkan tempat saya membeli kayu, pemiliknya baru 3 hari keluar dari tahanan polisi, tentunya dengan merogoh uang sekitar 25 juta katanya. Inilah yang saya maksudkan bahwa usaha bansau beresiko tinggi dan mahal, namun dibalik itu sangat menggiurkan.

Inilah sisa-sisa kejayaan usaha kayu di Kalimantan, di tengah lagi jayanya para pengusaha Batu Bara. Kita tunggu kejayaannya yang lainnya, dan kita tunggu pula apa hasil dari kerusakan yang disebabkan kejayaan ini.

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

6 responses to “Bansau dan Illegal logging (Penebangan Liar) di Pahuluan Kal Sel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: