Pelajaran dari Tukang Es Cream Bundaran Banjar Baru


Kelihatannya cuaca hari akan sangat panas, karena waktu sudah menunjukkan jam 12 siang dan terik matahari mulai terasa menyengat . . . seharusnya kalau cuaca seperti ini jualan es cream akan lebih laku, namun tidak hari ini.

Kebetulan beberapa minggu yang lalu saya ada keperluan kantor di Banjarbaru, sekitar 130 km dari tempat saya tinggal. Berangkat pagi-pagi dari rumah dengan menggunakan angkutan umum (Colt L300), sekitar jam 10 sudah sampai di Banjar baru . . . Tidak banyak tingkah saya langsung menyelesaikan urusan kantor dan jam 11.45 sudah kelar, dan langsung siap untuk kembali ke rumah dengan sekali lagi menggunakan angkutan umum. Saya mencegat angkutan di Bundaran Banjar Baru yang memiliki tugu yang lumayan besar dan tinggi.

Ketika mencegat angkutan inilah saya belajar tentang sedikit perjuangan hidup dari tukang es cream, hari ini sangatlah panas tidak seperti hari-hari biasanya yang selalu hujan. Namun panasnya hari ini tidak memberikan kegembiraan berarti buat bapak si penjual es cream. Es Cream tradisional di Banjar lebih sering disebut dengan es dong-dong, dan biasanya dijual secara berkeliling dengan menggunakan gerobak kecil. Tapi tidak dengan bapak yang satu ini, kayaknya dia selalu mangkal di pinggiran jalan dekat Bundaran ini, karena memang tempat strategis dan selalu rame.

Pelajaran perjuangan hidup dalam mencari nafkahlah yang saya dapatkan dari si bapak. Tulisan ini selaras demham tulisan saya sebelumnya tentang Pengemis  dan . Bekerja Untuk Lelah .

Di tengah terik matahari dan hujan si bapak tetap stand by disini dengan harapan ada yang laku dari jualannya, es cream yang ditambah dengan potongan roti tawar jadi andalannya. Bermodalkan es cream, roti tawar, gerobak kecilnya dan payung besar serta tentunya semangat dan tawakkal sama Allah SWT.

Tempat jualan si bapak ini memang strategis, namun ia berada di tengah toko dan ruko yang bagus dengan jualan yang bermacam-macam, ada jualan roti, bakery, cokelat, alat elektronik dll. Di tengah hiruk pikuknya jalan inilah si bapak mengharapkan ada pendapatan untuknya.

Ketika saya melewati si bapak, langsung ditanya ‘ mau kemana ? saya bilang aja “Barabai”, langsung saya paham bahwa si bapak ini tidak sekedar jualan es cream, tapi juga sekaligus jadi “makelar” angkutan. Jadi si bapaklah yang bertugas mencarikan angkutan (colt L300) buat saya, dengan berdiri di pinggir jalan dengan sesekali menengok kearah jalan kalau-kalau ada angkutan yang lewat, kalau ada angkutan yang lewat si bapak mengacungkan atau melambaikan tangannya sebagai tanda ada penumpang yang mau ikut. Kadang langsung dapat tapi kali ini butuh beberapa kali karena banyak angkutan yang penuh dengan penumpang, biasanya kalau untuk penumpang ke Barabai (dari Banjar Baru) maka makelar akan dikasih oleh si sopir sekitar 5 ribu per penumpang, beda tujuan maka akan beda besaran rupiah yang akan dikasih si sopir. Tentunya ini akan lebih pasti dan menggiurkan bagi si bapak daripada hanya jualan es cream semata yang belum tentu keuntungannya berapa.

Mungkin hal ini dan kondisi yang serupa walau tak sama akan banyak kita temui dalam kehidupan di sekitar kita, perjuangan mencari nafkah yang halal dengan tidak menyerah dengan keadaan, tidak harus memaksa untuk menjadi pengemis. Karena cukuplah kita mengemis hanya kepada Allah semata . . . Semoga rezki orang-orang kecil yang berjuang menghidupi keluarganya dengan nafkah yang halal akan selalu berkah dan bertambah, semoga.

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: