Menggapai Cahaya – Dari Balik Jeruji Ke Puncak Pemimpin Ummat


Ini merupakan buku yang mengisahkan tentang cerita nyata perjalanan dan pengembaraan  hidup yang luar biasa seorang sahabat, beliau adalah Ust. Rasman Saridin. Saya pertama kali bertemu beliau pada tahun 2000, ketika sama-sama kuliah di Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang. Beliau seorang warga negara Singapore, ketika kuliah beliau bersama istri dan anak beliau tinggal di malang.

Di kampus inilah kami sama-sama aktif di Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Ar. Fachruddin UMM. Bahkan beliau sempat menjadi Ketua LDK ini dan memberikan peranan besar bagi perkembangan dakwah kampus di UMM. Sesama aktifis Tarbiyah kami bersama-sama dengan ikhwah yang lain terus mengembangkan dakwah di kampus putih ini sampai akhirnya kami terpisah pada tahun 2006 an.

Beberapa kali masih kontak-kontakan lewat FB tapi tidak terlalu sering karena di sibukkan dengan kegiatan masing-masing. Nah yang terbaru dari beliau adalah di luncurkannya buku beliau dengan Judul : Menggapai Cahaya – Dari Balik Jeruji Ke Puncak Pemimpin Ummat. Sekarang beliau aktif dalam dunia pendidikan, sosial  dan dakwah di Singapore dibawah lembaga yang beliau dirikan ; Pusat Pendidikan Hira Educational and Social Services. Buku yang menceritakan dunia hitam yang pernah beliau lalui, pemakai dan pengedar narkoba. Hal ini sebenarnya sudah saya ketahui sedikit ketika masih bersama di Malang, bahwa dulunya beliau pernah masuk dunia hitam, jadi preman, namun dibuku ini lebih detail dan terbuka.

Beliau pernah dtanya; “Apakah Ustadz tidak akan malu dengan buku ini, tentang masa silam yang kelam?”

Beliau menjawab “Ini bukan persoalan malu atau tidak, melainkan lebih ke urusan bahaya laten terutama untuk generasi muda. Saya dedikasikan buku ini sebagai rasa bersyukur, karena Allah Swt telah memberiku kesempatan untuk taubatan nasuha, dan berjuang demi mengantisipasi dampak kejinya narkoba.”

Semoga apa yang beliau lakukan ini menjadi amal ibadah beliau dn berkah untuk semua, sekaligus menjadi inspirasi dan pelajaran untuk kita.

Ini sekilas tentang buku beliau, yang diresinsi dengan bahasa melayu (jadi ada sedikit kata-kata yang perlu diadaptasi), walaupun sebenarnya bukunya dicetak dengan bahasa Indonesia. Selamat membaca :

———————————–

Tajuk: Menggapai Cahaya – Dari Balik Jeruji Ke Puncak Pemimpin Ummat

Penulis: Ustaz Rasman Saridin

Penyunting: Pipiet Senja

Penerbit: Hira Mecca Publishing

Boleh dibeli di: Pusat Pendidikan Hira Educational and Social Services di Blk 807, #01-4201, Yishun Ring Road

JIKALAU ada seorang insan yang cukup membara semangatnya untuk terus menunjukkan kebaikan-kebaikan yang telah beliau raih selepas bebas daripada cengkaman penyalahgunaan dadah, beliau ialah Rasman Saridin.

Tidak cukup dengan mencurah khidmat bakti mengongsi pengetahuan dan pengalamannya di sebuah pertubuhan Islam – Persatuan Muhammadiyah Singapura – dan kemudian menubuhkan syarikat pendidikan Islamnya sendiri, beliau telah menulis sebuah buku pula, baru-baru ini.

Sememangnya wajar beliau menghasilkan buku itu untuk membentangkan dengan terperinci kisah hidupnya yang penuh liku-liku gara-gara terjebak dalam dadah, walhal beliau berasal daripada keluarga yang baik-baik dengan ibu bapa yang mengasihi dan adik-beradik yang menyokongnya.

Sebagaimana dikisahkan anak bongsu tujuh beradik ini dalam bukunya, Menggapai Cahaya – Dari Balik Jeruji Ke Puncak Pemimpin Ummat, yang disunting dalam bahasa Indonesia:

‘Banyak pengalaman berkesan semasa aku kecil yang kuperoleh dari keluargaku. Aku mendapatkan pengertian dari kakak abang dan perhatian ibu bapak. Segala yang kuinginkan selalu bisa (boleh) terpenuhi.

‘Jika aku pergi sekolah selalu diantar (dihantar) dan dijemput oleh bapak pakai mobil sedan (kereta). Waktu itu mobil sedan sangat langka (jarang ditemukan), meskipun bapak hanya sekadar sopir (drebar). Namun, ke sekolah yang jaraknya tak seberapa jauh itu, dan dengan diantar-jemput sedan, alamak!’

Justeru, memanglah amat menghairankan bagaimana Rasman yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh orang tua yang memegang kuat kepada agama boleh terjerumus dalam kancah dadah, bukan sahaja sebagai penagih, bahkan pengedar.

Salah satu bab menarik ialah pengakuan terus terangnya tentang cara-cara yang digunakannya untuk menjual benda haram itu agar ia dapat dilakukan dengan cara paling terselindung – antaranya memasukkan dadah yang ingin dijual ke dalam duburnya, kemudian menariknya keluar dengan tali apabila tiba masanya.

Rasman melakukan perbuatan berisiko besar pada kesihatannya ini dari 1983 hingga 1985.

Andai beliau tidak mahu menyampaikan sesuatu yang benar-benar berkesan dan menyentakkan orang lain yang pernah atau sedang bermain-main dengan api untuk mencuba dadah, Rasman tidak akan bercerita dengan begitu terbuka sekali.

Namun, beliau tidak malu mengisahkannya dalam buku ini – tentang bagaimana berkali-kali beliau keluar masuk penjara dan bagaimana minum arak dan mencuri turut menjadi kebiasaannya.

Tetapi, akhirnya segala yang hina itu dapat diatasi juga oleh Rasman yang bertaubat selepas mendengar berita bahawa seorang teman sekongkolnya telah dijatuhi hukuman gantung sampai mati.

Sejak itu, Rasman terus berubah dan berubah hingga dapat melanjutkan pelajaran peringkat ijazah di Universitas Muhammadiyah Malang di Indonesia dalam jurusan tarbiyah (pendidikan Islam).

Seterusnya merupakan rintisan sejarah manis buat bekas penagih yang sudah menjadi bapa dua anak ini.

Dalam usia 46 tahun kini, perjuangannya masih diteruskan untuk membantu penagih dan bekas penagih keluar daripada lingkungan musibah mereka dan buku ini menjadi pengantaranya.

Cuma, oleh kerana ia disunting dalam bahasa Indonesia, maka banyak lenggok bahasa dan perkataan yang digunakan kedengaran asing.

Bagaimanapun, ia usaha terpuji penulis untuk mendedahkan bagaimana betapa dalam sekalipun jurang penyalahgunaan dadah yang dimasuki, berkat keazaman, seorang bekas penagih boleh bangkit dan menyumbang kepada masyarakat, bangsa dan agama.

Buku ini boleh didapati di pusat pendidikan yang telah ditubuhkannya, Hira Educational and Social Services, di Blk 807, #01-4201, Yishun Ring Road, berhampiran stesen MRT Khatib.

Pusat ini dibuka dari 10 pagi hingga 8 malam, Isnin hingga Sabtu dan dari 10 pagi hingga 2 petang pada Ahad. Harga senaskhah buku ini ialah $10.

————————————————-

Ini sedikit kutipan dari buku beliau :

Beberapa bulan berada di luar, alam bebas-merdeka, tetapi aku masih harus melapor dan melakukan tes urine. Kegiatanku kembali melakukan pekerjaan ilegal, yakni; mengedarkan narkoba.

Dan aku hanya beberapa kali saja memenuhi persyaratan tersebut, diperiksa urine. Selanjutnya aku tak peduli lagi. Bagaimana tidak? Aku telah kembali sebagai pecandu narkoba!

Kembali aku ditangkap polisi, dijebloskan ke sel penjara, disidangkan; divonis 24 bulan!

Dan kembali aku direhabilitasi dengan sistem dan kinerja yang mereka pertahankan. Sesungguhnya saat-saat pertama kali dinetralisasi kondisiku, itulah yang sangat menyiksa. Bayangkan saja, bagaimana dirimu jika direndam di dalam es membeku selama beberapa jam.

Brrrrrrr, menggigil luar biasa!

“Ayo, tenggelam, tenggelaaaam!”

“Ya, biar keluar semua racun dari tubuhmu!”

“Jangan melawaaaan!”

Suara-suara itu sangat hingar-bingar merecoki pendengaranku, sementara kepalaku, tubuhku ditenggelam-tenggelamkan ke dalam es beku. Sekali saja aku mencoba berontak, tak ayal lagi tendangan, pukulan akan menghajar telak tubuhku.

Oya, aku belum mengisahkan bagaimana saat pertama kali masuk penjara dan direhabilitasi. Pertama-tama sekujur tubuh kita ditelanjangi, diperiksa dengan sangat cermat. Bahkan dubur pun diperiksa, dimasukkan telapak tangan petugas lelaki, sungguh menyakitkan dan sangat melukai martabat kita. Pemeriksaan ini yang dikenal Satay di kalangan napi narkoba.

Keluar dari ruangan isolasi pada hari-hari pertama, setelah melewati masa-masa sakau, rasanya kaki-kaki ini melayang-layang ringan. Ya, aku merasa bagaikan berada di awan, di antara gerumbulan mega-mega putih, masih tak tentu arah, dan semakin tiada kuketahui tujuan.

“Halo, jumpa kembali, ya Nak!” sambut seseorang yang segera kukenali sebagai salah seorang teman lama.

Kembali dalam pergaulan dengan sesama napi pecandu narkoba, ternyata aku lebih mudah beradaptasi. Mungkin karena aku telah berpengalaman. Tak ada lagi intrik, kejahatan yang menimpa diriku dari mereka. Sedikit demi sedikit benteng pertahanan diri itu terbangun dengan sendirinya.

Lihatlah, aku pun menjadi seorang remaja yang tangguh!

“Sekarang kamu sudah lebih hebat, Nak. Bagus, bagus, bagus!” puji sosok yang biasa disegani, karena memiliki tubuh kokoh dan pengaruh luar biasa itu.

Sekali itu aku sukses menyembunyikan segala macam barang selundupan dari luar. Tentu saja itu hanya bisa dilakukan dengan mengajak kerjasama petugas.

Narkoba Berseliweran

Jangan dikira bahwa para petugas, bahkan sipirnya sekalipun, steril dari urusan kejahatan yang mereka sampirkan ke bahu-bahu kami. Oh, tidak, itu tidak benar sama sekali!

Mereka bahkan bisa menikmati hasil kejahatan itu tanpa mendapatkan sanksi atau hukuman seperti kami. Belum lagi jika mereka sudah mematok harga yang harus kami bayar, jika ingin barang selundupan aman dan tiba dengan selamat ke tangan kami.

Semuanya berujung pada sesuatu yang bernama; Uang!

Pekerjaan sambilanku kali ini sebagai asistennya si Bos, sebut saja demikian. Aku membantu mengamankan barang-barang selundupan di suatu tempat, di sela-sela genting atau sudut-sudut tersembunyi di ruang pencucian.

Dengan itulah aku bisa merokok sesukaku, bahkan menjualnya kepada teman-teman dan mendapatkan keuntungan.

Pekerjaan yang diwajibkan terhadapku adalah membuat batu bata di pabrik. Rutinitasnya kami diangkut pagi sekali menuju pabrik batu bata. Jika petang kami diangkut kembali, dijebloskan ke balik sel. Upahnya ketika itu $32 dolar Singapura per bulan.

Aku menabungnya dengan hemat sekali, bahkan kemudian boleh dibilang nyaris tak pernah menggunakannya sesen pun. Sedangkan pengeluaranku untuk kebutuhan sehari-hari kuperoleh dari berjualan ilegal bersama si Bos.

Selama dipenjara itu aku kembali mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan. Kali ini aku berhasil menamatkan tingkat SMP persamaan. Sesungguhnya aku pun mendapat pengarahan keagamaan. Ada para guru agama yang didatangkan untuk memberikan pencerahan kepada kami.

Hanya saja sampai saat itu, segala pencerahan dan ayat-ayat serta hadist-Nya, bagaikan melintas begitu saja. Masuk kuping kiri dan segera keluar dari kuping kanan. Sungguh godaan setan sangatlah tangguh!

Ketika dibebaskan dari hukuman, rasanya aku kaya-raya. Tabunganku lumayan banyak, jika jujur dan hendak bertaubat seharusnya bisa saja. Namun, sesuatu yang bernama taubatan nasuha itu agaknya belum mampir dalam hidupku.

———————————-

Ini sedikit kutipan buku beliau, semoga tertarik untuk memiliki dan membacanya. Buku sudah dapat dibeli di Gramedia Jabodetabek, Surabaya, Malang, seperti kata beliau di FB. Mungkin juga sudah ada di gramedia di kota-kota yang lain.

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: