Perjuangan Kai Ingut


Kai Ingut biasanya beliau disapa, Kai dalam bahasa banjar berarti Kakek, sedangkan Ingut dalam bahasa banjar berasal dari kata Sasingut yaitu kumis. Memang wajah Kai Ingut dihiasi dengan kumis dan juga janggut.

Kai Ingut itulah nama beliau, nama aslinya saya kurang tahu. Beliau adalah seorang yang memberikan warna pada bangunan, Tukang Cat itulah pekerjaan beliau. Secara umur beliau sudahlah sangat tua, ketika saya tanya beliau hanya menjawab sudah 60 tahun lebih, karena secara pasti beliau juga tidak tahu.

Sekarang beliau tinggal bersama salah satu anak, menantu dan cucu beliau dalam sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Rumah yang dikontrak dengan satu bulannya sebesar 150 ribu. Rumah sederhana yang berada di Banua Jingah, Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Dari rumah inilah beliau pergi ke tempat kerjanya dengan menggunakan sepeda ontel yang sudah tua, sepeda yang biasanya hanya beliau taruh di luar rumah sampai malam hari, karena menurut beliau siapa juga yang berminat dengan sepeda tua itu.

Pekerjaan mencat bangunan / rumah sudah beliau lakukan sejak puluhan tahun yang lalu. Dan ini sudah menjadi keahliaan beliau. Dengan pekerjaan yang tidak menentu adanya, tergantung ada atau tidak  orang yang membutuhkan jasa beliau. Dengan pengalaman yang sudah lumayan lama, beliau sudah sangat mengerti tentang dunia cat mencat walaupun hanya sebatas tradisional. Bahkan beliau masih mempertahankan kebiasaan beliau mencat dengan hanya menggunakan kuas, padahal kebanyakan tukang cat sekarang sudah menggunakan rool. Beliau berpendapat sudah terbiasa dengan kuas dan akan lebih irit cat bila menggunakan kuas dibandingkan dengan rool.

————————–

Beberapa hari yang lalu saya menggunakan jasa beliau untuk mencat rumah.  Alasan terpenting saya memakai jasa beliau adalah rasa salut saya kepada beliau akan sebuah perjuangan mencari nafkah walaupun sebenarnya beliau sudah tua. Padahal kalau dibandingkan dengan tukang cat lain pastilah banyak keterbatasan yang beliau punya karena factor umur serta fisik beliau.

Kai Ingut di atas andang mencat bagian yang tinggi

Kai Ingut di atas andang mencat bagian yang tinggi

Dengan susah payah Kai Ingut naik andang  untuk mencat

Dengan susah payah Kai Ingut naik andang untuk mencat

Tulisan ini hanya ingin menyampaikan tentang semangat perjuangan mencari nafkah yang halal oleh seorang yang sudah tua renta. Semangat pantang menyerah dengan keadaan, semangat untuk tidak menyusahkan orang lain, semangat mencari rezki dengan tangan sendiri dan dengan cra terhormat, semangat ikhtiar dan tawakkal sama Allah SWT, dan semangat memberikan yang terbaik.

Tulisan ini serupa dengan tulisan saya sebelumnya dalam blog ini : Bekerja Untuk Lelah,  Pengemis,  dan Penjual Es Cream Banjar Baru https://avivsyuhada.wordpress.com/2012/01/12/pelajaran-dari…an-banjar-baru, Hikmah dari Gulali Janggut https://avivsyuhada.wordpress.com/2012/01/17/hikmah-dari-gulali-janggut/

Ada beberapa semangat perjuangan yang paling tidak patut kita ambil hikmah dari seorang kakek tua untuk kiya yang masih muda :

  1. Pantang Menyerah. Bagi oarng yang sudah berumur tua dengan keadaan fisik yang tentunya sudah semakin lemah namun masih memiliki semangat untuk bekerja mencari nafkah dan tidak pantang menyerah dengan keadaan tentunya sesuatu yang luar biasa. Bahkan kai ingut, pergi ke tempat kerjanya hanya dengan menggunakan sepeda ontel, dan biasanya mencat juga membtuhkan alat bantu (tangga, meja dll untuk mencapai bagian yang tinggi, dalam bahasa banjar alat ini disebut “andang”) untuk naik ke andang ini kai mengalami kesulitan karena ketrbatasan fisiknya namun tetap saja beliau lakukan dengn berlahan dan hati-hati.
  2. Semangat untuk tidak menyusahkan orang lain. Kai Ingut karena sudah tua bisa saja berpangku tangan dan menyerahkan kehidupannya pada anak-anaknya, namun itu tidak beliau pilih, karena tentunya ingin berdiri dikaki sendiri dan tidak menyusahkan orang lain termasuk anak-anaknya.
  3. Semangat mencari rezki dengan tangan sendiri dan dengan cara terhormat. Berpangku tangan, berharap bantuan orang lain dan bahkan mengemis tidak jadi pilihan, karena ada keyakinan bahwa rezki dari Allah SWT selalu akan tercurah dengan usaha keras kita dan doa.
  4.  Semangat ikhtiar dan tawakkal sama Allah SWT, dan semangat memberikan yang terbaik.

Semoga cerita ini memberikan hikmah untuk kita semua.

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: