Partai Politik dan Kepemimpinan


Partai Politik dan kepemimpinan seperti dua sisi mata uang, partai politik berproses untuk dapat berkuasa, dan demikian memimpin proses pengambilan kebijakan. Hal ini mengharuskan parpol untuk mempersiap­kan calon pemimpin yang diharapkan mampu mengatur jalannya pemerintahan. Dalam proses internal inilah, salah satu fungsi parpol urgen dibahas, yakni pengkaderan. Proses pematangan kader untuk memimpin, baik dalam konteks pemerintahan lo­kal maupun nasional, itulah yang perlu mendapat sorotan khususnya mengenai partai-partai di Indonesia.  Indonesia pasca kemerdekaan, bisa dika­takan adanya kegagalan parpol dalam melahirkan kepe­mimpinan yang berkualitas. Dalam pembahasan ini kita akan memulainya dari makna kepemimpinan itu sendiri.

Definisi tentang kepe­mimpinan sangatlah banyak kita temukan, hampir seba­nyak jumlah orang yang mendefinisikan konsep tersebut. Ada beberapa literatur yang definisinya menurut penulis cukup mewakili. Henihill dan Coons menyatakan kepemimpinan adalah suatu perilaku dari seorang indi­vidu yang memimpin aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama. Adapun Rauch dan Behling menyatakan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas suatu kelompok yang diorganisasikan ke arah pencapaian tujuan.

Rhenald Kasali dalam bukunya “Re-Code Your Change DNA, Membebaskan Belenggu-Belenggu Untuk Meraih Keberanian dan Keberhasilan Dalam Pembaharuan” menyatakan : Pemimpin, bukan anak buah. Dialah yang bertanggung jawab. Dalam situasi yang sulit ia bukan sekadar pemangku jabatan, melainkan seseorang yang menimbulkan gerakan dengan kekuatan pengaruhnya. Maka di zaman sulit, namanya bisa menjelma menjadi motivator, coach, penerjemah, nabi, dai, guru, paus, jenderal, atau panglima. Beda benar dengan sebutan-sebut­an formal yang tertera pada surat keputusan pemangku jabatan: pres­iden, direktur, dirjen, sekjen, menteri, kabag, kasie, kapolres, kacab, dan sebagainya.

Lihatlah Gambar di atas, dan renungkanlah di mana Anda berada. Pemangku jabatan hanyalah pemimpin level 1, yaitu pemimpin yang berada pada lapisan terendah dengan daya pikat/daya pengaruh yang nyaris tak berbunyi. Lumpuhnya organisasi-organisasi usaha dan pemerintahan di Indonesia, begitu banyak orang yang sudah merasa menjadi pemimpin dengan hanya mengantongi surat keputusan (pemimpin level 1).

Tentu saja ada banyak sebab mengapa kebanyak­an pemimpin pada suatu kerangka budaya (bang­sa) terperangkap pada level 1. Sekolah yang terlalu mengandalkan prestasi akademis (bukan kepemim­pinan), kecenderungan formalitas, serta atasan-atasan yang rata-rata juga pemimpin level 1 punya kecenderungan memilih orang yang sama seperti mereka. Pepatah Amerika mengatakan, bird of a feather flock together (burung-burung yang bulumya sama, membentuk kelompok yang sama). Orang­-orang bermental “manajer” bahkan punya kecenderungan “takut” dengan mereka yang punya kecenderungan menjadi pemimpin. Mereka akan mengontrol orang­orang bebas-merdeka, kreatif dan berani itu agar tetap berada di bawah kendali­nya. Manajer tidak menghasilkan atau menciptakan pemimpin, melainkan hanya bawahan atau pengikut.

Dengan demikian, jelaslah, negeri ini membutuhkan pe­mimpin, bukan sekadar mana­jer. Manajer bisa diperoleh dari sekolah-sekolah (kampus-kam­pus), sedangkan pemimpin di­uji dalam “pasar”. Ia diuji oleh masyarakat, klien, perusahaan dan sebagaimana diterima, oleh “pasar” karena nilai-nilai (values) yang mereka miliki dan manfaat (benefit) yang mereka berikan.

Bagaimana dengan aspek kepemimpinan yang terjadi pada partai politik di Indonesia? Sejarah partai politik di Indonesia diawali dari pengumuman Wakil Presiden Hatta pada 3 November 1946 tentang seruan untuk mendirikan partai politik. Sebagai negara yang meng­anut sistem demokrasi maka keberadaan partai politik di Indonesia merupakan sebuah keniscayaan. Dalam perja­lanan panjang sejarah demokrasi yang dibangun di negara ini, tidak bisa dipungkiri bahwa peran strategis partai politik adalah untuk melahirkan para pemimpin bangsa. Kontribusi yang demikian besar ini akan menjadi lebih bermakna manakala para pemimpin partai yang diamanati rakyat untuk memimpin bangsa ini mampu berperan optimal untuk membawa kehidupan bangsa ini lebih adil dan sejahtera.

Pemimpin merupakan faktor penting untuk membawa pcrubahan dan perkembangan suatu bangsa. Kita lihat hahwa kondisi wajah bangsa Indonesia saat ini, dalam situasi ketidakmenentuan, merupakan hasil karya para pemimpin yang telah berkuasa selama ini. Melalui partai politik yang ada, sering kita saksikan para pernimpin bang­sa telah secara akrobatik menunjukkan dirinya pada rak­yat bahwa mereka bukanlah orang yang murni untuk memperjuangkan nasib rakyat dan membawa bangsa ke depan pintu gerbang keterpurukan dan kesengsaraan. Pa­ra pemimpin yang dilahirkan oleh partai politik telah gagal untuk membawa bangsa ini menuju pada kondisi yang lebih baik sesuai dengan cita-cita bangsa.

Kegagalan partai politik untuk melahirkan para pemimpin bangsa yang berkualitas telah dicatat oleh sejarah. Kenyataannya, parpol hanya sibuk demi meraih kekuasa­an tanpa diimbangi penyiapan kader partai yang matang. Mereka nyaris tidak memandang perlu untuk terus me­ningkatkan kualitas para kader dan pemimpin-pemimpin yang mereka miliki. Pola kaderisasi yang masih setengah hati, serampangan, dan miskin konsep seolah menjadi identitas yang tepat bagi keseriusan pembangunan SDM dalam sebuah parpol. Kenyataannya lagi menunjukkan bahwa kondisi parpol semakin parah manakala ia hanya berorientasi utama mendulang suara sebanyak mungkin dengan tanpa dibarengi dengan upaya peningkatan kualitas ka­daernya. Kader-kader partai yang muncul akhirnya adalah pemimpin-pemimpin karbitan. Kualitas para pemim­pin yang dihasilkan oleh partai terasa memprihatinkan.

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: