Thalasemia


Pagi-pagi nonton TV, eh ternyata ada kabar bahwa hari ini 8 Mei adalah Hari Thalasemia ( penyakit kelainan darah yang ditandai dengan kondisi sel 
darah merah mudah rusak atau umurnya lebih pendek), dan salah satu cara mencegahnya dari awal adalah dengan mencek darah sebelum melaksanakan pernikahan. Karena penyakit ini diturunkan orang tua ke anak. . . .

Sampai berita berakhir masih saja penasaran ada dalam benak saya, akhirnya mencari informasi di Internet. 

—————————–

Ternyata  penderita thalasemia akan mengalami gejala anemia  diantaranya pusing, muka pucat, badan sering lemas, sukar tidur, nafsu  makan hilang, dan infeksi berulang. Thalasemia terjadi akibat ketidakmampuan sumsum tulang membentuk protein yang dibutuhkan untuk  memproduksi hemoglobin sebagaimana mestinya.

Thalasemia adalah sekelompok penyakit keturunan yang merupakan akibat dari ketidakseimbangan pembuatan salah satu dari keempat rantai asam amino
yang membentuk hemoglobin. Thalasemia adalah penyakit yang sifatnya diturunkan. 

Thalasemia memang diturunkan dari orangtua ke anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Bila gen penyebab thalasemia berasal dari kedua orangtua-nya (ayah dan ibu), maka seseorang dapat menderita thalasemia dengan manifestasi klinis sedang hingga berat (thalasemia mayor).

Namun bila gen penyebab thalasemia hanya diturunkan dari salah satu orangtua, maka umumnya anak tersebut hanya menderita thalasemia dengan manifestasi klinis yang ringan, bahkan kadang tidak ada gejala klinis yang timbul (thalasemia minor). Orang dengan gen pembawa thalasemia namun tanpa gejala ini disebut pembawa sifat atau karier (carrier) thalasemia. Walaupun tanpa gejala, karier thalasemia tetap akan menurunkan gen pembawa sifat thalasemia ini pada keturunannya.

Terapi yang diberikan tergantung pada berat ringan penyakitnya. Pada yang sangat ringan atau karier thalasemia, tentu tidak membutuhkan terapi. Pada kondisi yang lebih berat memerlukan transfusi, bahkan ada yang membutuhkan transfusi berkala. Kadang pada kondisi yang amat berat sehingga menimbulkan pembesaran limpa yang tidak terkompensasi lagi oleh badan, membutuhkan terapi bedah, limpa pun dibuang.

Pada keluarga dengan riwayat thalasemia perlu dilakukan penyuluhan
genetik untuk menentukan resiko memiliki anak yang menderita thalasemia.
Pengidap thalasemia yang mendapat pengobatan secara baik dapat
menjalankan hidup layaknya orang normal di tengah masyarakat. Sementara
zat besi yang menumpuk di dalam tubuh bisa dikeluarkan dengan bantuan
obat, melalui urine.
Penyakit thalasemia dapat dideteksi sejak bayi masih di dalam kandungan,
jika suami atau istri merupakan pembawa sifat (carrier) thalasemia, maka
anak mereka memiliki kemungkinan sebesar 25 persen untuk menderita
thalasemia.
Karena itu, ketika sang istri mengandung, disarankan untuk melakukan tes
darah di laboratorium untuk memastikan apakah janinnya mengidap
thalasemia atau tidak.

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: