Transisi Demokrasi


Seperti yang saya sampaikan pada tulisan sebelumnya (Kudeta Mesir), bahwa selanjutnya saya akan mencoba membahas tentang tiga permasalahan yang bisa membantu kita untuk lebih bisa memahami kondisi perpolitikan yang terjadi di Mesir minggu-minggu ini, Tiga hal itu adalah Transisi Demokrasi, Mahkamah Konstitusi dan Kudeta, dan akan kita mulai dengan Tulisan Transisi Demokrasi.

—————————————-

Transisi dan Gelombang

Dalam Kamus bahasa Latin, Transisi” berasal dari kata trans”dan “cendo”. Trans sendiri berarti di seberang, di sebelah sana, dibalik, menyebrangi, sedangkan cendo berarti melangkah ke sesuatu yang lain, berpindah. Jadi transisi berarti melangkah ke seberang, berpindah ke sebelah sana. Pengertian “Transisi” dalam kamus umum Bahasa Inggris karangan John Nt. Echols dan Hasan Shadily adalah peralihan, dari kata “transition” yang juga bisa diartikan dengan masa peralihan atau pancaroba. Apabila terminologi “transition” ini digabungkan, dengan istilah “power”; maka padanan kata itu akan menjadi “power transition” yang berarti “peralihan kekuasaan”. Sedangkan jika dipadukan dengan kata demokrasi menjadi “transition to democratic” yang berarti perubahan ke demokrasi atau peralihan ke demokrasi. apabila kata “transition” itu dipadukan dengan kata “democraticy” akan menjadi “transition to democracy ” yang berarti perubahan ke demokrasi atau peralihan ke demokrasi. Yang berubah dan beralih di sini adalah suatu masa atau periode sebelum terjadinya transisi. Periode itu adalah periode sebelum beralih ke demokrasi. Nama dari periode itu adalah periode nondemokrasi, entah itu periode kekuasaan monarki absolut, kekaiseran sulstanistik, patrimonial, kediktatoran pribadi, kediktatoran militer, kediktatoran partai atau model-model lain dari rezim otoritarian. Jadi jelas bahwa defenisi transisi di sini adalah suatu masa peralihan kekuasaan dari kekuasaan otoriter ke kekuasaan demokratik atau dari sistem otoriter ke sistem demokratik.

Gelombang demokratisasi menghantam dunia Arab – Timur Tengah baru pada 2011 kemarin, sedangkan Indonesia menjelang penutupan dekade 1990-an. Transisi  dan gelombang demokrasi ini, agak terlambat, karena Eropa Selatan (Spanyol dan Portugal), Amerika Latin (Bolivia, Chilie, Argen­tina, Brazil, Mexico, dll) dan negara-negara Asia (Philipina, Ko­rea Selatan, Taiwan) sudah mengalami demokratisasi 1970-an dan 1980-an.

Kajian teoritis-konseptual tentang demokrasi mula bergaung ketika terjadi transisi ke demokrasi yang mulai marak pasca perang dunia kedua, ketika banyak rezim otoritarian tumbang dari kursi kekuasaannya. Banyak ahli (expert) dan ilmuwan politik beralih perhatian yang semula bersifat eropasentris dan amerikasentris membuka mata terhadap perkembangan di Eropa Selatan, kemudian ke Amerika Latin dan Asia.

Perhatian dipusatkan pada bagaimana suatu rezirn otoritarian yang tampak tangguh dan otonom roboh dalam sekejab mata. Ilmuwan Politik yang banyak mengkaji tentang transisi ke demokrasi di antaranya adalah Robert Harvey (Portugal : Birth of Democracy), Guillermo O’Donnell dan Philippe Cschmitter (Transition from Authoritarian Rule; Tentative Conclusions About Uncertain Democracies) dan Huntington. Dalam “The Third Wave“, Huntington banyak mengulas tentang transisi ke demokrasi dari rezim-rezim otoritarian.

Tipe Transisi Demokrasi

Menurut Huntington ada empat tipe utama yang menjadi unsur dominan dalam transisi :

  1. Transformasi

Dalam transformasi, pihak-pihak yang berkuasa dalam rezim otoriter mensponsori perubahan dan memainkan peran yang menentukan dalam mengakhiri rezim itu dan mengubahnya menjadi sebuah sistem yang demokratis

  1. Replasemen

Transisi dalam replasemen sangat berbeda dengan yang terjadi dengan transformasi. Dengan ciri-ciri khusus, yaitu : (a) kelompok pembaharu/oposisi sangat kuat dan mampu mengorganisir diri secara leluasa, sedangkan dalam transformasi kelompok ini sangat lemah bahkan tidak ada. (b) Unsur dominan dalam pemerintahan adalah kelompok konservatif yang dengan gigih menentang perubahan rezim (c) Demokratisasi  hanya bisa tercipta dalam bentuk oposisi yang kuat dan pemerintah semakin lemah sihingga jatuh dengan sendirinya dan di gulingkan . (d) kelompok-kelompok oposisi mulai mengambil alih kekuasaan dalam pemerintahan, (e) kelompok-kelompok dalam pemerintahan baru saling berselisih mengenai hakekat rezim yang seharusnya mereka lembagakan (f) Munculnya konflik dalam kelompok baru rezim tersebut.

3. Transplasemen

Demokrasi merupakan hasil kompromi dan pakta bersama antara pihak oposisi dengan pemerintah. Kelompok konservatif dalam rezim berada pada posisi yang seimbang dengan pemerintah, tetap pemerintah sendiri hanya bersedia merundingkan perubahan, dan tidak mau memprakarsai perubahan rezim. Hal ini sangat berbeda dengan adanaya dominasi  kelompok konservatif yang menimbulkan replasemen.

4. Intervensi

Dalam hal ini Negara Demokratis melakukan pemaksaan atau tekanan terhadap Negara yang dikuasai oleh rezim otoriter untuk melakukan sejumlah langkah liberalisasi politik  atau demokratisasi.

Dari gambarab tipe di atas maka Transisi Demokrasi yang terjadi di Indonesia dan Mesir sangat mirip, walaupun mungkin aka nada perbedaan di beberapa titik, seperti penyebab terjadinya transisi dan proses transisi tersebut, karena memang secara ketatanegaraan dan lembaga juga ada yang berbeda, Tapi paling tidak keduanya berada dalam tipe yang sama yaitu Replacement.

Transisi Demokrasi dengan tipe Replacement merupakan sebuah transisi yang matang dan lemah, proses ini sangat tergantung dengan kontinuitas perjuangan dari mereka yang memiliki komitmen yang kuat dengan pembangunan demokrasi. Dan dalam kasus Indonesia dan juga sepertinya Mesir replacement ini menampakkan wajah yang tidak sempurna. Namun jika Indonesia dan Mesir memiliki cukup banyak tersedia kelompok sosial yang konsen dengan demokrasi, maka replacement ini akan menjadi matang. Namun apabila kelompok sosial itu sedikit maka berpeluang besar bahwa Transisi Demokrasi ini berbalik arah menjadi Otoritarianisme Baru.

Maka besar kemungkinan setelah berjalannya trasisi ini seluruh kekuatan status quo akan melakukan konsolidasi atau mempengaruhi perubahan ke demokrasi dengan memaksakan sejumlah kepentingannya, sehingga transisi demokrasi menjadi lunak (soft tansition) dan hal ini dapat kita lihat jelas dengan apa yang terjadi di Mesir, dimana kekuatan status qou melakukan trik dan perlawanan terhadap proses demokrasi yang merugikan mereka dengan melakukan kekuatan militer. Secara halus dan memaksakan ligalitasnya dengan menggunakan putusan Mahkamah Konstitusi (Tentang Pembubaran parlemen Mesir dan penyerahan kekuasaannya kepada Militer).

Tiga Faktor Penopang Transisi Demokrasi

Tiga faktor ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembangunan Demokrasi, yaitu :

1. Pembangunan Ekonomi, Menurut Huntington Pembangunan Ekonomi ini akan melahirkan tiga hal esensial bagi demokrasi : a. Tingkat moral pendidikan yang tinggi yang mendukung demokrasi, b. Perluasaan kelas menengah dan penambahan jumlah borjuasi yang menopang demokrasi, c. Membentuk budaya warga masyarakat, kepercayaan, tanggung jawab dan kompetisi yang sehat

2. Civil Society, merupakan asosiasi politik yang mempelajari tentang demokrasi, dimana setiap warga Negara dapat belajar tentang seni berasosiasi. Disini semua warga Negara belajar mengubah pandangan mengorganisir diri sebagai bentuk otonomi dan independensi mereka dalam bernegara. Titik terangnya adalah civil society sebagai tempat yang mempelajari tentang demokrasi. Dan dalam demokrasi itu sendiri mempunyai aturan yang sangat jelas dalam menyelesaikan persoalan  dalam masyarakat, sehingga menutup kemungkinan adanya tindakan barbarian  (main hakim sendiri).

Civil Soceity sebagai ruang (space) merupakan tempat yang potensial bagi pertumbuhan demokrasi, karena dalam ruang inilah seriap individu dan kelompok sosial dalam masyarakat saling berinteraksi, berkomunikasi, berdialog, berdiplomasi, bernegosiasi tentang berbagai realita sosial yang ada dalam masyarakat. Dalam ruangan ini pula kepentingan privat dan kepentingan publik akan bertemu. Dan ruang ini bisa berupa Alun-alun, kantor DPRD, taman kota, masjid dll. Atau bisa juga berbentuk institusi publik yang secara normatif dan prosedural mengatur dan memperjuangkan berbagai jenis kepentingan masyarakat, seperti LSM, Organisasi Sosial Politik, Organisasi Kemasyarakatan Umum yang termasuk didalamnya Organisasi Mahasiswa.

Hubungan antara Civil Society, Ruang, Kepentingan dan Demokrasi

3. Perluasan Kelas Menengah. Kelas Menengah yang kuat akan menopang demokrasi, karena semakin  banyak kelas menengah semakin tinggi tingkat partisipasi mereka dalam berbagai bidang baik itu ekonomi, sosial, politik, budaya dll.

Pemilu Jalan Menuju Demokrasi

Pemilu memberikan harapan untuk awal sebuah perubahan mendasar dalam sebuah Negara yang menginginkan demokrasi. Namun biasanya Pemilu yang dilaksanakan pada masa awal-awal transisi akan sangat membahayakan dan rentan konflik internal dan bahkan bukan akan memberikan jalan keluar, malah menuju jalan masalah yang lain, yaitu Kudeta.

Patrick Merloeseorang anggota senior untuk Proses Pemilihan, Lembaga Demokratik Nasional untuk Urusan Internasional (NDI) dalam salah satu pamflet yang ditulisnya untuk konferensi tentang Pemilu di Zimbawe (15-18 Nopember 1991) menilai Pemilu sebagai tonggak yang sangat penting dalam peralihan kekuasaan non demokratik ke demokrasi. Ia mengatakan bahwa: Pemilu merupakan suatu kesempatan untuk menguji bagaimana seperangkat lembaga berfungsi di masa transisi, dan apakah hak asasi manusia yang fundamental dilindungi dan dipupuk. Ukurannya adalah, apakah warga negara bebas untuk menyatakan pendapat politik, berserikat, berkumpul, dan bergerak sebagai bagian dari suatu proses  pemilihan.

Alat pengujian mencakup; apakah penyelenggaraan Pemilu tersebut bekerja tidak memihak dan efektif, apakah para calon legislator dapat bekerja dengan bebas untuk mendapatkan dukungan rakyat atau tidak, apakah sumber-sumber pemerintah dimanfaatkan semestinya, apakah militer bersikap netral atau tidak, apakah polisi dan jaksa menjaga ketertiban dan melindungi mereka yang ingin menjalankan hak-hak politik sipilnya, apakah badan peradilan tidak memihak dan efektif, dan apakah media massa bebas untuk meliput atau tidak.

Dari definisi Patrick di atas, setidak-tidaknva ada sepuluh elemen yang menjadi penopang dan instrumen utama dari Pemilu: 1) Pengfungsian lembaga Pemilu; 2) Perlindungan dan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia pemilih; 3) Partisipasi warga negara dalam pemilihan; 4) Adanya lembaga­lembaga independen yang memantau jalannya Pemilu, seperti Pers, Lembaga Independen Pemantau Pemilu (LIPP); 5) Para calon legislator memiliki kesempatan untuk berkampanye tanpa merasa takut; 6) Militer bertindak netral dan profesional, 7) Polisi bersikap jujur dan bertindak adil terhadap semua kontestan Pemilu; 8) Lembaga kehakiman yang mampu menegakan hukum; 9) kontrol media massa; 10) Dan akses informasi peserta Pemilu.

Maka dengan sepuluh elemen di atas kita akan dapat menilai kualitas dari sebuah Pemilu, apakah Pemilu tersebut akan mengantarkan kepada Demokrasi apa tidak, dan untuk Indonesia atau Mesir maka kita akan dapat memberikan penilaian masing-masing,  seperti kasus Indonesia yang partisipasinya tinggi namun minim partisipasi sukarela, dalam artian tingginya money politic, dan kasus Mesir dimana Militer tidak bertindak Netral. Dan semua itu akan menjadi PR untuk masa yang akan datang.

Sebuah masa transisi tidak hanya membutuhkan waktu setahun atau tiga tahun, mungkin ia akan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk sampai kepda tujuannya. Dan sangat mungkin akan terjadi transisi yang berkepanjangan.

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: