Keluarga, The First and Last Defense


Ketika merebak isu tentang program Menteri Kesehatan tentang  kondom, yang secara tidak langsung memberikan pemahaman bahwa hubungan bebas (free sex) di luar nikah adalah boleh, asal papai kondom. Dari sisi pemahaman Menteri Kesehatan hal ini akan memperkecil kasus aborsi dan kehamilan di luar nikah, dan dapat memecahkan banyak masalah lainnya, seperti penyebaran penyakit  HIV AIDS. Sudut pandang ini kalau dilihat sepintas bisa memecahkan masalah, namun sebenarnya kalau kita mau berpikir lebih jauh dan panjang maka hal ini hanya akan menjadi bom waktu dan tidak menyelesaikan akar permasalahan. Apalagi kalau kita melihat permasalahan ini dengan kaca mata agama Islam, maka tentu ini akan sangat bertentangan dengan ajaran agama yang melarng keras namanya Zina.

Beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah acara diskusi di sebuah stasiun TV swasta yang menghadirkan seorang Ibu, aktifis keluarga dan pendidikan anak. Sang ibu menyesalkan program Menteri Kesehatan ini dan menyatakan bahwa jalan keluar dari semua ini adalah dengan mengembalikan kembali fungsi keluarga, fungsi ayah dan fungsi ibu. Yang mana beliau mengatakan bahwa fungsi-fungsi itu sudah tidak berjalan dengan baik di masyarakat kita.

Hal inilah yang akhirnya membawa saya untuk melakukan searching dan mulai memahami kembali sebuah urgensi yang namanya Keluarga dalam sebuah tatanan masyarakat. Tulisan ini juga sejalan dengan konsep pendidikan karkater pelajar yang pernah saya tulis sebelumnya.

Harus kita pahami bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia sangat efektif apabila dilaksanakan, melalui keluarga sebagai unit terkecil dari himpunan masyarakat. Fungsi keluarga sangat strategis yaitu keluarga seringkali di sebut sebagai lingkungan pertama, sebab dalam lingkungan inilah pertama anak mendapatkan pendidikan, bimbingan pembiasaan dan asuhan. Keluarga bukan hanya menjadi tempat anak diasuh dan dibesarkan, tetapi tempat anak hidup dan dididik pertama kali. Karena apa yang diperolehnya dalam kehidupan keluarga, akan menjadi dasar dan dikembangkan pada kehidupan-kehidupan selanjut nya.

Kehidupan modern dengan segala tuntutannya sekarang membuat keluarga, ayah dan ibu dalam keluarga tidak mampu lagi menyeimbangkan posisi mereka untak dapat memberikan asuhan yang layak serta pendidikan karakter yang seharusnya. Anak sekarang diserang dari seluruh penjuru dengan informasi dan budaya yang kadang mereka tidak mampu memfilternya. Serangan dari Televisi, Internet, HP, Kawan, dll yang membuat anak remaja sekarang memiliki kegidupan yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan ayah dan ibu nya dulu, dan karena perkembangan yang super cepat  inilah orang tua ketinggalan beberapa langkah di belakang anaknya.

Sehingga sangat laya dikatakan bahwa keluarga adalah  The first and last defense  (Pertahanan Terakhir dan bahkan Pertahanan Pertama) dalam proses pendidikan anak. Banyak orang tua yang memahami kewajiban mereka dalam mendidik dan mengasuh  anak sudah tertunaikan ketika mereka sudah menyekolahkan mereka di Sekolah atau bahkan di pesantren. Sehingga kewajiban mengasuh dan mendidik sudah mereka sub kontrakkan ke pihak ketiga, dan ini tentunya salah besar. Keluarga dan orang tua tetap berkewajiban untuk mengasuh dan mendidik anak di rumah dan bersinergi dengan pendidikan di sekolah.

 

Banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. Namun masalahnya, kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak, dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. Akibatnya sejak usia dini, sebagian besar anak-anak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”, sebagai anak yang kurang pandai.

Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter, dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri, akan menimbulkan stress berkepanjangan. Pada usia remaja biasanya keadaan ini akan mendorong remaja berperilaku negatif. Maka, tidak heran kalau kita lihat perilaku remaja kita yang senang tawuran, terlibat kriminalitas, putus sekolah, dan menurunnya mutu lulusan SMP dan SMU.

 

Lingkungan keluarga menjadi faktor penting dalam menanamkan pendidikan karakter anak, di luar faktor pendidikan di sekolah serta lingkungan sosial. Lingkungan keluarga ini, bisa dimulai dari situasi dalam keluarga dan pola pendidikan yang dilakukan.

Jika pola pendidikan karakter di tengah keluarga sudah terbangun dengan baik, dengan sendirinya anak akan lebih mudah untuk menerima pendidikan karakter di sekolah. Demikian pula saat anak harus bersinggungan dengan lingkungan sosial.

Jadi inti jalan keluar dari segala permasalahan remaja seharusnya berawal dari keluarga, ayah dan ibu. Satu-satunya jalan keluarnya adalah dengan bagaimana Ayah  dan Ibu untuk Kembali Kerumah, Kembali consent mendidik dan mengasuh anak mereka, sehingga keluarga berfungsi sebagaimana mestinya

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: