Batampur Meriam Karbit di Barabai


Kebiasaan Batampur (Perang) Meriam Karbit di Barabai, tepatnya di Daerah Mahang – Palajau masih tidak memudar, setiap Hari Raya Idul Fitri, biasanya pada malam hari raya ke 2, perhelatan perang ini dilaksanakan.berbiaya puluhan juta ini murni hasil urunan dan swadaya masyarakat. Romantisme bunyi yang memekakkan telinga ini ternyata sudah lama ditunggu dan jadi pergunjingan hebat warga Barabai.
Tak salah kalau tradisi yang begitu menguras uang itu tetap digelar. Masyarakat takut kegiatan budaya mereka hilang terus usang dan dilupakan. Kendati persiapan tahun ini terkesan mendadak, dengan semangat yang sama, cita-cita meneruskan tradisi mendentumkan meriam yang bunyinya terdengar puluhan kilo itu harus meriah dan kampung yang sunyi mendadak hidup.
Puluhan batang meriam disipkan, sedikitnya 60 lebih batang meriam (2012) yang  berhadap-hadapan dan terdata di tengah kegelapan malam

Meriam ini terbuat dari batang pohon aren ini. Hal ini dimulai dengan menebang batang aren dan membelah untuk dilubangi,  menyatukan batang aren, menambal dengan seng, menutupi dengan samawi (pengikat dari bambu) agar lingkarannya makin kuat. Sampai dengan menggulung rantai, memindahkan meriam ke lokasi dan mencobanya.
Photo-0168Photo-0169Photo-0170
Untuk mencoba, tak perlu ragu, seluruh meriam yang sudah jadi harus dites untuk diuji kekuatan batangnya. Pengujian ini untuk mengukur kadar kebutuhan karbit, air, dan melihat ikatan samawi agar tidak bergerak saat dibunyikan. Selain itu, membunyikan lebih awal bermaksud untuk “memanas-manasi” lawan agar secepatnya menyelesaikan pembuatan meriam. Meriam ini biasanya sepanjang 10 meter, bahkan ada yang lebih.

Adat dan budaya batampur meriam ini jadi alat pemersatu warga Mahang dan Buluan. Silaturahmi tetap lancar kendati namanya perang meriam. Di balik semangat terbersit kesulitan pendanaan. Pasalnya, modal satu batang sekurangnya Rp1 juta, padahal yang bersanding totalnya lebih 60 batang. Dan, kebutuhan karbit sebanyak 1 ton, nilainya sekitar Rp 14 jutaan.
Kalau dilihat dari segi dana, maka hal ini tentunya sangat besar, apalagi kalau dana tersebut bisa digunakan untuk keperluan sosial yang lebih bermamfaat. Namun demi pelestarian tradisi, makwa warga tetap komitmen  utnuk terus swadaya melaksanakannya.

 

 

 

About aviv

Pemerhati Sosial Politik Keagamaan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Muhammad Afif Bizri, SHI, SH, M.Hum, lahir di Kandangan pada 12 Oktober 1981. Kuliah S1 dan S2 di Malang, Jawa Timur. Semasa Mahasiswa sempat aktif di LDK, SKI, Bem, Senat, Paham, KAMMI. Sekarang menjadi Abdi Negara dan Masyarakat di Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, berdomisili di Hulu Sungai Tengah, Kal Sel menikah dengan seorang akhwat bernama Mahmudach, S.ST. Bersama sama merajut tali kehidupan menuju Ridha Ilahy. Sekrang sudah dikarunia 3 orang anak, Muhammad Faiz Al Fatih, Muhammad Aqsha Ash Shiddiq dan Muhammad Thoriq Az Ziyad Lihat semua pos milik aviv

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: